Visit Blog

Explore Tumblr blogs with no restrictions, modern design and the best experience.

Fun Fact

Tumblr paired up with Humans of New York to raise money for Hurricane Sandy relief.

Trending Blogs
#kebapakan
image

Photo by Daiga Ellaby on Unsplash

Jadi, tulisan ini adalah serial kecil, tentang (sedikit) ilmu parenting yang saya dapat dari bimbingan keluarga sendiri, sekolah pra nikah, buku parenting, pun dari kuliah di pendidikan dokter. Kawan tidak harus setuju 100%, dan kami akan sangat senang bila anda mempunyai opini mengenai tema ini yaitu kebapakan.

Ada dua foto yang ingin saya bagikan di unggahan kali ini dari film A Beautiful Day in The Neighborhood (2019)

image
image

Pengantar sedikit, boleh ya?

Tanggal 20 Januari 2018 adalah tanggal terakhir saya menulis tentang pelajaran saya untuk persiapan menjadi seorang bapak kelak. Sudah 2 tahun saya absen, sekarang saya kembali lagi. Pasalnya, saya ingin bersiap kembali karena mimpi itu saya rasa semakin dekat di tahun-tahun ini. Saya ingin ketika punya anak kelak, saya punya bekal yang mumpuni untuk membina keluarga. Pada unggahan semacam ini, saya ingin berbagi kembali, apa-apa yang saya pelajari untuk bisa bertumbuh bersama keluarga saya kelak.

Mungkin, menjadi orang tua kelak pun harus mengingat rasanya ketika menjadi anak-anak. Kita menangis karena apa, marah dengan hal apa, dan bagaimana kita ataupun keluarga kita bereaksi. Meskipun memang benar, ingatan kita ketika kecil tidak mungkin seingat itu, tapi paling tidak, kita mempunyai pembanding yang kuat untuk mencari cara mendidik yang baik.

Dulu ketika kita kecil, kita bertumbuh menjadi dewasa. Tapi mari kita sadari, terutama pada orang tua dengan anak yang pertama, orang dewasa pun bertumbuh menjadi orang tua ketika itu. Ketika kita belajar untuk melangkah, mereka pun belajar untuk mengajari anak melangkah. Ketika kita belajar untuk buang air besar, orang tua kita pun belajar untuk mengajari anaknya prosesnya yang baik.

Bertumbuh, bukan semata milik anak, namun juga bagi orang tua. Tata pikir seperti ini nampaknya membuat kita sadar bahwa dalam peran apapun, kita harus belajar untuk lebih baik, baik itu sebagai anak dalam bersikap kepada orang tua, ataupun orang tua terhadap anak.

Selain itu, sisi lain yang saya pelajari kali ini adalah pentingnya untuk jujur terhadap perasaan sendiri. Anak perlu untuk diajarkan bahwa mempunyai perasaan senang, sedih, kecewa, marah, adalah hal yang wajar; itu manusiawi. Tidak ada yang salah dalam perasaan itu. Tidak pula kita memarahi atau bersikap cuek ketika ananda menangis karena hal yang mungkin menurut kita sepele; seperti tidak bisa menemukan mobil mainannya di bawah kasur. It is okay to be sad; anak-anak perlu untuk mengetahui ini. Mereka harus jujur dengan perasaannya sendiri, dan ketika ananda jujur dengan perasaannya, apresiasi perasaan itu. 

Tidak ada yang salah dengan perasaan itu, tinggal bagaimana kita bereaksi dengan perasaan tersebut dengan cara yang baik. Entah kita ajak dia makan makanan yang dia suka, main musik, memukul drum, ataupun berlari-lari di taman dekat rumah, sembari kita ajak untuk reasoning atau memecahkan masalahnya. Arahkan ke hal yang positif, sehingga ketika dia bertumbuh dewasa, pelariannya pun ke hal semacam itu. Pada konsep psikiatri yang saya pelajari, dalam reaksi terhadap stressor, ada task oriented dan mekanisme pembelaan ego. Dua hal ini saya percaya tidak mungkin secara sadar dapat kita pilih, tapi kita bisa memilih task oriented yang baik dan mekanisme pembelaan ego yang matur atau dewasa. Ini semua dibentuk, salah satunya, dari pola asuh yang baik dari orang tua.

image

Pola itu, pun, bisa kita dapat dari ajaran orang tua kita. Saya ingat, ketika kecil, kalau sedih atau marah, saya sering diajak lomba lari naik tangga ke masjid dekat rumah kalau menuju Maghrib ataupun Isya’. Ke anak saya kelak, saya pun ingin mengajarkan hal yang sama, atau serupa, dengan cara yang positif pula. 

Tiap anak itu spesial dengan dirinya sendiri. Mengajari bahwa diri mereka itu spesial dengan segala kelebihan dan kekurangannya itu penting. Sosok terbaik ananda kelak bukanlah ketika ia berkekuatan super semacam Superman atau Spiderman, tapi ketika mereka menjadi sosok terbaik dengan diri mereka sendiri, cara mereka sendiri.

image

Photo by Tina Bo on Unsplash

73 notes · See All
image

Originally posted by be-psychos-together

Jadi, tulisan ini adalah serial kecil, tentang (sedikit) ilmu parenting yang sudah saya dapat dari bimbingan keluarga sendiri, sekolah pra nikah, buku parenting, pun dari kuliah di pendidikan dokter. Kawan tidak harus setuju 100%, dan kami akan sangat senang bila anda mempunyai opini mengenai tema ini : Fatherhood , Kebapakan.


Mungkin ini semua bermula sejak saya masih kecil, tepatnya ketika SMA. Saya teringat ketika dalam orientasi program pertukaran pelajar AFS, terdapat sesi mengenai angan dan cita-cita yang berjudul “river of life”. Di situ kami diminta untuk bercerita lini masa beberapa tahun ke depan; apa yang diinginkan, apa cita-cita utama, bagaimana jalan rencananya, dll. 


Bagi saya, ini pertama kalinya saya diminta untuk menuliskan cita-cita yang benar-benar terencana serinci yang saya bisa. Kebanyakan dari kita menulis cita-cita ketika kecil hanya sebatas “aku ingin jadi dokter!” tapi tanpa adanya step-step di dalamnya. Maka saya mulai menulis, apa yang ada di dalam hati saya, yang terpendam dan harus keluar malam itu juga.


Tiba saatnya saya bangkit untuk bercerita. Ternyata aneh, yang saya citakan, tampak berbeda dengan kawan AFS lainnya. Mereka menulis ingin menjadi menteri, menjadi presiden, menjadi diplomat, semua beserta langkah-langkah sesuai dengan idealisme masing-masing.


Saya? Saya malah menulis : Menjadi seorang bapak, membentuk keluarga yang hangat. Ketika yang lain menulis cita-cita yang kebanyakan karir dan sedikit tentang menikah dan pasangan hidup serta keluarga, saya malah kebanyakan tentang keluarga, dan sedikit tentang karir. Wah ramai pokoknya ketika itu kalau diingat-ingat hehehe


Tapi serius, hingga sekarang tidak berubah, masih menjadi cita-cita. Apalagi di umur sekarang ini hohoho


Mungkin perlu di breakdown dulu, apa why di balik ini semua. Kata Simon Sinek, kita harus punya why yang kuat agar semua ini konsisten dan punya purpose yang kuat di tiap aktivitas. Termasuk mengapa saya menulis serial ini.


image

Originally posted by yourreactiongifs


why, Hilmy, whyyy?

Okay saya tahu. Punya cita-cita seperti itu tidak serta merta membuat saya otomatis menjadi seorang bapak yang terbaik di dunia, nooo. 

Saya yakin, hidup ini terlalu sebentar untuk sekadar karir; sd, smp, sma, kuliah, ambil profesi, jadi dokter, internship, ambil dokter spesialis, kerja kerja kerja lalu tahu-tahu berada di ranjang rumah sakit, berganti posisi menjadi pasien. Sangat sebentar bung, sangaaaaat bentar !


Maka saya ingin, di hidup yang sebentar ini saya bahagia; baik ketika hidup, mati, dan hidup setelah mati. Bahagia menurut saya, adalah mempunyai keluarga surga. Simpel. Keluarga itu organisasi kecil, tapi darinya lah kita bisa menggetarkan dunia dan akhirat. Keluarga itu tempat berlari dari masalah, pencarian ketenangan, tempat solusi dari masalah. Keluarga itu penyejuk mata, qurrota a’yun, ada dari pasangan dan ananda hingga keturunan. Keluarga itu tempat ridho Allah berada, lillah untuk Allah, dalam keyakinan yang saya pegang bahkan ada dosa-dosa yang hanya bisa gugur hanya dengan cara mencari nafkah. Put it simple, keluarga itu harus jadi jalan ke surga. Maka keluarga surga adalah cita-cita.

Ini why saya. Tiap orang bisa punya why yang berbeda; anda pun bisa menarasikannya berbeda dengan why saya. 


Saya rasa cukup dengan membahas why, terutama milik saya pribadi dalam penulisan ini. Bahasan di serial selanjutnya insyaAllah tidak akan berat, saya meniatkan beberapa poin yang mungkin luput dari masyarakat sekarang, terutama fenomena-fenomena millenials yang semakin beragam dan bikin pusing sendiri. Wadaw.


Tidak mengapa, masa depan insyaAllah lebih cerah kok


wallahua’lamu bisshowab , mari berbagi !

185 notes · See All
Next Page