Visit Blog

Explore Tumblr blogs with no restrictions, modern design and the best experience.

Fun Fact

If you dial 1-866-584-6757, you can leave an audio post for your followers.

Trending Blogs
#mimpi

Setelah hari-hari panjang yang lelah dan sudah dialami, seorang pria bertanya

“Tuhan kalau ada alasan baik kenapa aku harus tetap bertahan dalam hidup ini meskipun sulit, tolong beritahu aku. Aku lelah dengan kecemasanku, aku lelah dengan perlakuan orang-orang disekitarku, aku merasa tidak dicintai, aku lelah karena harus mengalami ini berulang kali. Aku tidak minta banyak, hanya tolong beritahu aku satu alasannya.”

Lalu ia tertidur dan di dalam mimpinya tuhan mengirimkan jawaban

“Kau harus bertahan karena aku”.

Minggu, 29 November 2020

1 notes · See All

Mimpi Kita

Dulu, kita punya begitu banyak mimpi. Kita ingin mencapai ini dan itu; ingin meraih keinginan ini dan itu. Namun semakin dewasa, mimpi-mimpi kita seperti terkubur dengan sendirinya. Tergantikan hal-hal lain karena dituntut keadaan, berganti ini dan itu karena banyak hal.

Namun apapun yang terjadi, ridha orang tualah yang lebih utama. Tanyakan pada mereka apa yang mereka inginkan dari kita, sebagai bentuk bakti kita pada keduanya. Yaa sebelum pada akhirnya kita menyesal telah kehilangan mereka.

Jangan sampai di tengah jalan kita sudah menyiapkan rentetan rencana A, B, C, tapi ternyata mereka menginginkan D. Maka dari itu, tanyalah pada mereka terlebih dahulu apa yang mereka inginkan, diskusikan bersama. Lalu, kita melangkah dan mengupayakannya dengan sebaik mungkin.

Sebesar apapun keinginan kita terhadap sesuatu, ridha orang tua lah yang mestinya kita dahulukan. Bisa jadi dengan menuruti apa keinginan orang tua, semuanya akan dipermudah.

Sebab ridha orang tua, ridha Allah juga.

Pena Imaji

39 notes · See All

Untukmu, yang ingin keluar dari zona nyaman..

Tantangan lingkungan yang beragam menjadikan diri kita lebih mengenal diri sendiri,  mengenal oranglain, memfilter segala yang tepat dan memposisikan diri kita dengan cara yang terbaik. Karena hidup tanpa tantangan seperti kita waktu kecil dulu, bermain bersama boneka-boneka yang kita suka dan lingkungan permainan yang kita atur sedemikian rupa. Tidak ada yang naik, tidak ada yang turun dan tidak ada yang baru. Kita tidak sadar bahwa kita bisa keluar dari zona nyaman, bermain dengan permainan yang baru atau minimal kita menentukan untuk menemukan boneka-boneka baru.

-Yustin Dessy

0 notes · See All

Pernahkah kita bertanya pada orang yang dekat dengan kita, apakah kita bisa melewati ujian-ujian yang banyak memberikan pelajaran?

Dalam diam, kita menilai oranglain mampu dan saat oranglain diam mereka menilai kita mampu. Jadi sebenarnya kita hanya disibukkan dengan PR kita tak mampu, padahal milyaran galaksi di semesta mengatakan kita mampu. Kita hebat dari yang kita kira. Kita bukan hanya butuh support system yang kuat, tapi kita juga  butuh keinginan yang kuat untuk mengamati sejenak hal-hal baik dari sekeliling, barangkali kita hanya sibuk dengan diri kita yang menghirup aroma menyerah dan mencari-cari kawanan yang juga hampir menyerah, kemarin. Sekarang? berbenahlah, yang berenergi justru yang hatinya lapang dan harinya terbuka untuk membelakakkan mata bahwa semua rekan adalah lentera yang membuat kita tak redup. Karena diri kita sebenarnya adalah persepsi apa yang kita bangun untuk diri kita. Refreshing lah, ambil waktu untuk dirimu sendiri, journaling untuk mengenal dirimu sendiri atau bangunlah komunikasi dengan beberapa pihak yang sekiranya bisa terlibat dalam genangan keluh kesahmu, libatkan beberapa orang agar support system itu tak berdiri dari 1 atau 2 orang saja, pilih dan ambilah beberapa karena biasanya yang beberapa itu akan lebih kuat.

-Yustin Dessy

0 notes · See All

 Mengkambinghitamkan rasa takut

Keraguan dan pesimitas itu memang kadang samar

Padahal yang memiliki tujuan besar biasanya dia memiliki motivasi yang cukup besar pula

Dia tak akan mencari lagi motivasi dalam bentuk apapun

Apalagi mencari energi lain untuk menggapai sesuatu

Dia akan fokus menjadi apa yang dia rencanakan

Karena baginya fokus yang terbagi itu akan tersiasiakan

apabila ketika dia telah berusaha namun lelah pada tujuan awal

dia akan menemukan motivasi lain lalu dia akan ragu dan balik kanan

Apa mungkin itu akan kejadian (?)

Bisa saja, apabila usahanya tak lebih serius dari pemerhati usahanya

Maka setelah dia balik kanan, kau harus terus berjalan ke depan

Setidaknya kau akan belajar bahwa ikhlas itu bergerak

bukan diam duduk bersila

 -Yustin Dessy

0 notes · See All

Terlintas sebuah deretan kisah dalam kondisi lelap, yang biasa kita sebut bunga tidur.

Disebuah tempat berbatu menanjak, aku terduduk sambil memandang tempat sekitar. Tiba-tiba desiran sunyi merayap dalam diri, membuat bulu kuduk berdiri. Melihat kebawah, curam. Melihat keatas, tak terbatas. Batinku “bukankah aku tadi ditempat yang paling atas?”. Melihat kebelakang –tepat di tempat teman-teman yang membersamaiku– kosong, mereka tidak ada. Seolah-olah aku sendiri, benar-benar sendiri.

-Nadia Nur Faizah

25112020

1 notes · See All

Mimpi, 12 September 2020

Lamaran itu


Dalam suatu tempat yang terlihat seperti warung bakso, aku berhadapan denganmu dengan duduk dikursi panjang dengan jarak meja lebar nan panjang diantara kita. Disuasana itu ada 2 kotak kue yang berisikan es krim di depan kita masing-masing. Lalu aku mulai mencicipi es krim itu. Selanjutnya aku mulai melahap es krim dengan senangnya. Karena selain tak ada es krim yang tak enak, bisa duduk berhadapan denganmu merupakan hal yang tak pernah aku bayangkan. Tentunya, aku sangat menyukainya.

Tapi, setelah tak sengaja melihat dirimu, aku menjadi bingung. Karena kamu masih terdiam ditempat dudukmu. Menundukan muka dan sama sekali tidak menyentuh sekotak es krim enak yang ada didepanmu. Kamu terlihat seperti orang yang ingin bicara tapi ragu. Setelah itu, kamu malah tarik napas panjang terus menerus didepanku dan membuatku semakin bingung.

Tiba tiba ada kata kata yang keluar dari mulutmu, “ Aku mau kamu menikah denganku, aku tau kamu sudah punya kekasih. Tapi aku ingin mengungkapnya agar tidak menyesal.” Terasa sekali getaran terkejut dalam diriku. Dada langsung terasa sesak.

Dalam hatiku,“ Aku juga mencintaimu tapi aku baru saja memulai hubungan serius dengan orang lain. Kenapa waktunya tidak tepat untuk kita.” Ini benar benar terasa nyata bagiku.

Kamu pun melanjutkan kalimatmu,“ Aku akan memperjuangkanmu.” Membuatku semakin terdiam.

DAN BANGUN!

Kulihat jam menunjukkan 03.30, adalah waktu di sepertiga malam. Waktu yang tepat untuk menyampaikan salam? ahh tapi aku terlalu mengantuk untuk hari ini. Dan aku pun melanjutkan tidurku lagi.

Setelah itu aku bangun pukul 04.30. Aku masih belum lupa dengan mimpi itu. Dan membuatku tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkanmu sampai sekarang.

0 notes · See All

Kalajengking

image

Walaupun ini masih perkara kamu. Kali ini aku hanya ingin bercerita tentang mimpi semalam.

Sebanyak dan sejauh yang kuingat, dalam mimpi, tubuhku terkadang usia 5, lain mimpi usia 13, yang jelas masih aku sebagai manusia lengkap dengan sepasang tangan dan kaki. Orang lain—sebatas kesadaranku, yang berada disana pun selalu melihat aku sebagai aku, yang memiliki kepala dan tubuh manusia pada umumnya. Dan yang pasti aku selalu menjadi aku, dengan kesadaran penuhku disaat itu. Tapi semalam berbeda. Aku kalajengking.

Kalajengking raksasa sehitam malam, lengkap dengan capit, dan ekor berbisanya. Kesadaranku penuh amarah, gelisah, haus, lapar, dan tidak terkendali. Rasanya ingin menancapkan ekorku sekeras yang kubisa, lalu mengeluarkan semua racunku yang mulai terasa gatal. Lantas kenapa kamu berdiri disana? menatapku sendirian dari tempat yang gelap, di rumah kalajengking.

Hal selanjutnya yang kuingat kamu sudah berada dibawah kendali capitku. Dari sini, semuanya mulai terasa aneh. Dari sini aku mulai bertanya-tanya kenapa kamu? kenapa aku? dan aku mulai sadar, aku kalajengking.

Pikiranku tersadar ini hanya mimpi, tapi instingku tetap untuk membunuh. Aku masih ingat wajahmu semalam, tidak melawan, tidak berusaha pergi, dengan ekspresi yang seperti biasa, tidak dapat—atau tidak mau aku baca.

Ini kesempatanku bukan? untuk bisa membencimu? toh ini mimpiku. Tidak apa jika aku membunuhmu disini kan? toh ini hanya mimpi. Setidak-tidaknya, disini aku bisa membencimu, menyakitimu, menguburmu. Setidak-tidaknya, disini aku bisa menjadi aku yang dulu sebelum mengenalmu, menjadi aku yang kurindukan, menjadi aku yang kalajengking.

Hasratku terpenuhi. Menghunjamkan ekorku sekeras yang kubisa. Semua racun tersalurkan. Rasanya hangat di dada. Aku tersenyum lega. Kamu tetap tak terbaca.

Walaupun kalajengking, ternyata kali ini pun aku tetap aku yang sekarang. Alih-alih berada di dalam dadamu, ujung ekorku berada sejengkal diatas perutmu, menembus punggung hingga dadaku, meneteskan cairan ungu? hitam? merah? entahlah yang jelas indah. Dan aku tetap aku, bahkan disini, di mimpiku sendiri, di alam bawah sadarku, aku tidak membencimu. Belum mampu menyakitimu, apalagi menguburmu.

Aku tidak mau.

Aku belum mampu.

0 notes · See All

Pada malam yang semakin larut. Ada seseorang yang sibuk mengeja takdir. Membayangkan perjalanan hidup yang selalu berjalan mulus, sesuai prasangkanya.


Namun nyatanya tidak demikian. Takdir yang dilakoninya tidak semulus dengan khayalan yang ia lukis dalam angan-angan. Seringkali ia menemui jalan buntu yang memaksa untuk berbalik arah.


Mimpi-mimpinya berceceran dalam lorong ingatan.

.

.

.

Kota Kuda

📝Cover Biru

0 notes · See All

Walaupun aku gagal memilikimu.

Setidaknya, aku telah berhasil..

mencoba menyayangimu semampu yang aku bisa…

.

.

.

Setiap orang boleh bermimpi,,,,

Tapi tidak semua orang berhak mendapatkannya.

Termasuk aku, yang tidak berhak mendapatkanmu

.

.

.

.

0 notes · See All

14 November 2020, 22:46 WIB

RASA

Aku baca setiap kata dari ceritamu yang kau buat setiap harinya. Begitu pula yang sedang aku lakukan dengan hari ini. Ceritamu kini menjadi candu bagi ku. Yang membuatku tenang jika aku melihat dan membaca ceritamu. Dengan begitu aku tau kabarmu. Yah, walau terkadang hati selalu sakit karena cemburu. Tapi aku sadar diri bahwa aku bukan siapa - siapa.

Aku iri pada bumi yang selalu kau sebut namanya disetiap hari dan doa mu.

Namun aku hanya si ranting kering. Ya, aku si ranting kering itu. Mungkin aku tidak dapat menjanjikan kenyamanan dan keteduhan yang ditawarkan bumi padamu. Tapi aku si ranting itu, ingin menjadi bahu untuk mu disaat kau lelah dan menguat kan mu disaat kau rapuh juga menguatkan mu disaat kau tak lagi kuat untuk bangkit. Tapi apa dayaku tak kuasa. Karena kau tidak membutuhkan aku.

Aku berharap di hari H-2 menuju hari ku. Aku meminta pada Tuhan ku. Agar sang waktu mau merubah aku dan kamu menjadi kita.

0 notes · See All

Tak hanya kamu, akupun sering begitu. Khawatir banyak hal yang akan terjadi dimasa depan.

Tentang menjadi apa dihari nanti. Atau dengan siapa akan menghabiskan waktu sepanjang hari.

Manusiawi sekali mungkin seperti itu. Sebab darisitulah lalu berani mengawali hari dengan bermimpi.

Mungkin yang tak boleh adalah prasangka berlebihan terhadap takdir.

Menganggap bahwa mahabaik Allah tak akan cukup membuat hari kedepan menjadi lebih baik.

221 notes · See All

Sepasang kekasih terancam pisah

Antara seorang anak dan mimpinya

Karena diselingkuhi harta benda

“Aku butuh makan”

Katanya

0 notes · See All

Dunia yang mengelilingiku ini,

Seberapapun kuimpikan dan kugenggam, masih terasa begitu jauh

Lelah mengejar  mimpi yang semakin menjauh saat coba kudekati

Sebenarnya apa yang ku harapkan dalam dunia?

Langit luas tak berbatas di sana pun tak menjanjikan tujuan yang jelas, membuatku takut terjatuh dan tersungkur lagi,

 


Sekuat apapun aku berlari, sejauh apapun ku kejar,

tetap tak bisa ku gapai.

Lalu tersadar bahwa dunia hanya menjanjikan kecewa.

5 notes · See All

Seketika beberapa ketangguhan yang sudah ku buat, menjadi berantakan. 

Beberapa pemakluman memang sudah di datangkan

Bagaimana jika tidak? 

Bagaimana aku harus lebih memahami lagi? 

Manusia yang datang dengan begitu sempurna, dengan penuh pengharapan tiba-tiba lenyap begitu saja? 

Aku yang tidak siap akan kehilangan atau kita diam-diam saling menguatkan? 

Itu tidak mungkin.

Dalam senyap malam kau hadir menjelma manusia seperti yang ku temukan

Kembali menyakinkan

kembali meminta maaf

Kembali dengan tatapan dan senyuman yang sama

Ternyata delusi mimpi baru saja menyerang pertahanan ku. 

Aku kembali melanjutkan perjalanan hari dengan kepahitan-kepahitan yang semestinya lagi. 

-N-

1 notes · See All

Perjalanan ku


Aku berjalan menapaki bukit terjal tak ada jalan.

Kakiku nampak terluka dan mengeluarkan darah karena goresan batu yang tajam.

Ingin mengeluh dan berhenti rasanya, tapi bukankah tujuanku masih jauh di puncak sana?


Akan kah aku harus tetap berjalan di keadaan seperti ini?

Nampaknya ekor sinar matahari pun menyembul di balik awan dan segera hilang.

Menampilkan rona jingga di ufuk barat bumi khatulistiwa.

Sunyi, hening, dan sepi.

Disinilah aku sekarang.

Tempat yang jauh dari jangkauan masyarakat.

Tempat yang binatang buas dan melata tinggal.

Aku masih berdiam ditempatku beristirahat.

Mengamati pergerakan awan malam juga sinar bulan yang sedikit redup dan bintang yang gemerlap.


Aku masih bertanya “untuk apa aku berjalan sendiri di tengah hening, sunyi dan sepi ini?”

Aku menyandarkan kepalaku pada batang pohon di samping ku.

Masih saja aku bingung, “mengapa harus berjalan di bukit terjal ini, malam, sendirian bahkan hanya berbekal satu kotak makanan”

Apa yang kalian pikirkan?

Apa kalian tetap melanjutkan perjalanan ini?

Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di puncak bukit ini.

Tapi kita memiliki tujuan untuk tetap sampai di puncak bukit.

Lelah? Jangan di tanya, berdiri pun enggan rasanya.


Bergegaslah aku meraih sebuah dahan kayu kering

Ku jadikan ini sebagai alat bantu untuk aku berjalan.



Aku tak tahu, mengapa tetap ingin melanjutkan perjalanan ini.

Yang ku tahu, “capai lah tujuan kita, untuk hasilnya biarkan Tuhan yang menentukan



sesulit apapun jalan yang kau tempuh, Tuhan sudah pasti menentukan apa yang akan menjadi hasil untukmu, percayalah Dia akan memberikan kemudahan untuk mu



By: Khoirun Nasihin

Writer: Kinanti

Editor : Kinanti

0 notes · See All
Next Page