Visit Blog
Explore Tumblr blogs with no restrictions, modern design and the best experience.
#KUKIRA KAU RUMAH
manojpunjabi · a month ago
Text
Official Teaser Trailer Kukira Kau Rumah
Official Teaser Trailer Kukira Kau Rumah
Official Teaser Trailer Kukira Kau Rumah. Film tentang kesehatan mental yang disutradarai oleh @umayshahab dan diperankan oleh @prillylatuconsina96 & @jourdy.pranata. Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia! Nantikan film Kukira Kau Rumah segera! KukiraKauRumah #KKR #KauYangSinggahTapiTakSungguh #SinemakuPictures #MDPictures https://www.instagram.com/p/CU2O8atppxM/
Tumblr media
View On WordPress
0 notes
tadikamesra · a year ago
Text
WP 20 Tadika Mesra: Cinta Dalam Diam
Tumblr media
Cinta itu fitrah, begitulah orang-orang menyebutnya, ia hadiah dari Maha Kuasa sekaligus ujian bagi yang tidak bisa mengendalikannya. Beberapa cukup memiliki keberanian untuk menyatakan sisanya, hanya sebatas harap dalam pendam. Maka, untuk segala perasaan yang tumbuh dalam diam, mudahan pada akhirnya bermuara pada keindahan restu Tuhan atau jikapun tidak ialah sebaik-baik jalan yang dipilihkan oleh Tuhan.
~~~~~~~
Tuan, dalam rentang jarak yang tak terhingga di antara kita. Ada rapal doaku yang tidak menyerah menyentuh firasatmu yang rahasia. Menerka bahasa hatimu, yang tersembunyi dalam ketetapan-Nya.
Tuan dalam isyaratku, bersaksilah seluruh rasa yang hakikatnya berada dalam genggaman-Nya, pemilik cinta atas segala cinta. Getar rasaku menggema dalam sunyi, menjelma gerimis di sudut-sudut hati, menunggu reda dengan kesungguhanmu.
Tuan, kuistikharahkan namamu kepada Tuhan, dalam diam, dalam cinta yang terpendam.
X
Puan, biarlah bentang jeda tetap menjadi tembok penjaga sampai kelak perjumpaan leburkan segala aral penghalangnya, hingga apa yang selama ini berupa praduga bisa kau baca sejelas-jelasnya.
Puan, simpan dulu semua rasa. Kemas dalam dada segala gema juga badainya, aku tahu kau pasti mampu tenteramkan gemuruhnya.
_Dalam serius penyemogaan, dalam khidmat percakapanku dengan Rabb semesta alam, yang kuharap-citakan hanyalah namamu.... Puan.
@makkiahst​ x @meremahrindu​
---
Semoga bukan lagi pelanggaran, bila mampuku hanya mencintamu tanpa izin. Sebab aku adalah diam, yang paling lemah menyuarakan soal kamu.
Jangankan menyapamu, menyebut namamu pun lidahku kelu. Lewat doaku, ya hanya dengan doa aku lebih leluasa menggambarkan bagaimana riuhnya perasaanku untukmu. Wahai kekasih.. meskipun aku terkesan membisu, namun percayalah jika dalam diamku, doaku tidak pernah lepas menyuarakan namamu. @sfwhkml9​ x @tulisanmantan​
---
Andaikan segalanya berakhir dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk pergi. Apakah kelak, takdir akan menuliskan cerita yang berbeda untukku?
Tanpa luka dan air mata yang menusuk rindu.
Kupikir, ketika kamu sebut 'segalanya berakhir', kamu sudah tahu bagaimana caranya melangkah pergi menuju bahagiamu dan kamu sedang berpijak di sana. Sedangkan luka dan air mata yang menusuk rindu akan terbayar lunas oleh seseorang yang tepat buatmu. Kamu tahu kan, semua hal itu baik dan akan terlihat salah karena tidak pada tempatnya?
Entahlah, kehilangan telah melumat segala bahagia yang ada—menyisakan kelabu dan rasa dingin di dalam dada. Bertahun-tahun bertahan dalam keterdiaman membuatku belajar bahwa mencintai tidak pernah mudah;
Akulah lelaki yang hancur dilumat oleh ombak perpisahan.
Kalau saat ini rasanya dingin dan gelap, tak apa. Kamu butuh waktu untuk mencerna maunya semesta, begitu 'kan? Tak apa, setidaknya kamu sudah belajar bahwa mencintai tidak pernah mudah, maka selanjutnya kamu akan punya kemampuan mengusahakan cinta dengan sepenuh hati dan seluruh kekuatanmu.
Kamulah lelaki yang hancur, yang kemudian menjelma menjadi pelaut ulung karena telah terlumat ombak perpisahan.
Mungkin, aku saja yang terlalu dalam mencintai, hingga lupa caranya untuk beranjak dari kenangan masa silam. Telah lama aku berusaha menepi dalam keterdiaman ini, namun ketidakberanian selalu menarikku kembali ke dasar kesepian.
Ah, iya, bagaimana kabarmu? Ini sudah tahun ketiga, ya, sejak kamu menemukan bahagiamu?
Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya dicintai dengan sangat dalam, ya? Seperti cintamu pada seseorang yang kau ceritakan ini, bagaimana rasanya, ya?
Hmmm, aku harus menarik napasku lebih dalam dari biasanya saat kau tanyakan kabarku. Rasanya, seperti dihujam pedang paling tajam. Kukira, seperti katamu, aku sudah menemukan bahagiaku. Kuusahakan semampuku untuk merawat cintanya, memupuk dengan perhatian, dan menyiraminya dengan pelukan. Tak disangka ia memilih perjalanan dengan peta yang berbeda, tanpa mengajakku turut serta. Aku memilih untuk menepi sejenak dan mengusahakan perjalanan dengan petaku sendiri tanpa ia yang kamu sebut bahagiaku.
Takdir menantangku untuk jadi perempuan yang kuat, maka akan kujawab tantangan itu.
Semesta memang lucu, ya? Terkadang kamu berpikir jika pilihanmu ialah yang terbaik, sedang mungkin seseorang di tempat yang berbeda justru mencintaimu lebih dalam dari siapa pun dan kamu tidak menyadarinya.
Karena kamu tahu?
Seperti itulah perasaanku ketika mengetahui kamu menentukan masa depanmu dengan seseorang bukan aku.
Mana mungkin cintamu padaku lebih dalam daripada siapapun? Jangan bercanda, aku sudah lelah dijadikan lelucon oleh semesta. Kalaupun kamu mencintaiku sedalam itu, tak seharusnya kamu membiarkanku memilih yang lain.
Aku pernah menjadi lelaki paling bodoh—membiarkanmu pergi tanpa pernah mengatakan. Itu alasan mengapa, kamu tetap hidup di dalam ingatan sebagai kenangan yang takpernah pudar.
Kali ini, kamu takkan lagi menjadi yang terlewatkan. Bagaimanapun juga, aku selalu mencintaimu. Sekarang dan selamanya. @ariqyraihan​ x @sepiringkata​
---
Pada sebuah pagi, siang, sore, dan malam yang biasa, ada kerinduan yang semakin tersakiti, tersimpan kebenaran yang tak pernah bisa kusuarakan; _tiada henti kurapal pilinan doa pada Tuhan—serta puisi-puisi cinta yang tak pernah sampai untukmu.
Karena yang kutahu, aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, di sisa hidupku. Dalam keberanian yang tak pernah cukup berani untuk diutarakan. Membisu ke dalam sunyi yang paling panjang. @rfabs​ x @asimetris​
----
Sampai sekarang aku bahkan tak tahu ingin menulis apa. Karena di kertas kosong ini, semuanya sudah penuh terisikan? Tentu oleh banyak kekosongan, kekosongan yang sempurna. Jadi, bagaimana mungkin kutulis berlembar-lembar perasaanku yang tak mungkin dan tak akan mudah kamu terima. Oh, dan tak penting juga bagimu.
Aku mencintaimu. Kau dapat melihatnya, bukan? Ini jelas seterang siang. Tapi nampaknya kau berlindung di bawah payung Tak peduli dilangit biru itu ada matahari atau hujan. Kau acuh dan terus berjalan dalam kepura-puraan. Kau atau aku, eumm mungkinkah kita memikirkan hal yang sama?
"Bagaimana cara mengakhiri semua ini?"
X
Pada kertas kosong itu, kulihat ada kumpulan harap yang tidak kasat mata. Mungkinkah kau membalutnya dengan doa? Sehingga mataku tiada membaca apapun tapi hatiku berdebar tak karuan.
Payung adalah benteng pertahananku, jika kututup, kau akan saksikan sebenarnya aku lebih dulu tersungkur sebab harap kepadamu dari jauh-jauh hari. Ketika engkau menjelma langit beragam warna dan aku menatapmu dengan perasaan terpana.
Kau dan aku, rupanya adalah "kita" dalam cinta tanpa perlawanan.
"Bagaimana jika dimulai dengan keberanianmu bertamu?" @tuanrumpang​ x @makkiahst​
-----
Berawal dari perjumpaan singkat dipusat kota, lalu atas ketidak sengajaan yang kerap mempertemukan kita, dengan segala keramah tamahanmu ketika memadu kata, lambat laun kagum mulai menyelinap diantara rancunya rasa. Tapi apalah aku, hanya sanggup mendambamu dalam sepi, mencintamu dalam sunyi, yang aku nikmati seorang diri.
Kamu, menjadi yang paling aku suarakan dalam ruang yang paling aku rahasiakan. Dan aku, tengah memangku doa dipelataran harap, menunggu keberanian untuk sekedar mengungkap, dari semua resah yang masih erat kudekap.
Dalam gelap yg mendekap. Diantara aamiin-aamiin sepertiga malam. Semoga aku tidak ketiduran, yah :)) Tikungan sepertiga malam lebih dahsyat soalnya wk @hafidhulhaqq​ x @worldofneptune​
---
👋🏼: Hai perkenalkan, aku adalah tangan kanan dari lelaki pengecut ini. Lelaki pengecut yang sering sekali menyebut nama pemilikmu tiap kali ia menengadahkanku untuk berdoa. Nama pemilikmu itu, selalu ia sisipkan setelah semoga-semoga tentang hal-hal bahagia. Tak ada yang mendengar kecuali aku dan si kiri serta lidah yang mengucap saja.
Acapkali jempolku ia gunakan untuk mengetik pesan untuk pemilikmu di aplikakasi chat. Walau pada akhirnya, jempol itu juga yang ia gunakan menekan tombol delete alih-alih tombol send. Jempolku juga yang ia gunakan untuk menggulirkan feed instagram pemilikmu, sesekali berhenti dan memperbesar gambar itu. Ataupun jika kau tanya rahasia-rahasia besar di gawainya, aku paling tahu. Semisal pin untuk membuka galeri rahasianya (yang berisi foto-foto pemilikmu dan dia dalam satu frame, juga screenshoot kalimat-kalimat afirmatif yang ia terima dari pemilikmu) adalah tanggal mereka berdua pertama kali bertemu.
Pemilikku ini sungguh lucu, ia lelaki namun tak berani mengungkapkan rasa cintanya. Maka di kesempatan kali ini, saat aku bisa bersalaman denganmu. Aku ingin meminta tolong, sampaikanlah bahwa lelaki ini sangat mencintai pemilikmu. Sangat cinta, tapi ia terlalu pengecut untuk mengungkapkannya.
-
👋🏻: Wahai tangan kanan si lelaki pengecut, senang sekali berjabat denganmu. Menarik sekali kisah si lelaki pengecut ini.
Ah, mumpung kita sedang berjabat, aku juga ingin membocorkan rahasia si perempuan kepadamu. Begini, si lelaki yang kau sebut pengecut itu adalah seorang yang sama, yang sering disebut si perempuan pada tiap igauan dan doanya. Namanya selalu disematkan pada doa si perempuan. Ia pun selalu merengek pada Tuhannya untuk menyematkan namanya di hati si lelaki pengecut. Kadang ia menggunakan telunjukku untuk mengukir nama si lelaki pengecut di atas sajadah atau di jendela kaca yang berdebu.
Kadang ia menangis cemburu melihat si lelaki pengecut didekati yang lain. Kadang ia menulis kisah tentang si lelaki pengecut dan dirinya sedang menikmati seduhan teh, berdua, di beranda rumah yang ia sebut 'rumah kita'. Ia menunggu lelaki pengecut mengatakan perasaan yang sama dengan miliknya. Dengan jemari lentiknya, ia menulis kata-kata yang menyiratkan bahwa ia menyukai si lelaki pengecut. Hanya tersirat, tak pernah tersurat.
Tidak hanya lelaki pengecut yang lucu, si perempuan yang menunggu pun sama lucunya. Nanti, saat malam sangat sepi di mana yang terdengar hanya irama napas si perempuan, kubisikkan dengan lantang cinta si lelaki pengecut kepada perempuan yang menunggu.
Lalu dengan @sepiringkata​, @kujagabulanbersinaruntukmu​
---
Perjumpaan maya yang menyisakan sejuta tanya sekaligus beberapa rasa yang sulit untuk aku namai apa, mungkin—dalam diam, diam-diam aku mengaguminya dengan diam. Mendiamkan rasa yang terus tumbuh dari benih kagum dalam diam. Hingga dalam diam aku terdiam, sebab siksa mencintai dalam diam yang harus ku taklukan. Namun menaklukan hati sendiri adalah mutlak 'tuk dilakukan.
Hari ini, di sore hari pada waktu yang selalu sama. Di bawah teduh naungan pohon cemara, di salah satu taman kota yang berjuluk, kota Sejuta Bunga. Seperti biasanya, aku masih menuliskan kisah hari-hariku yang selalu semuanya ku anggap indah. Kisah yang di dalamnya selalu ada dia sebagai sang tokoh utama, aksaraku mengalir begitu saja, seolah dia begitu dekat, padahal kami tak pernah bersua dalam nyata.
Hari ini, ketika langit tengah membara dan awan berkelana dibumbui syahdunya sepoi angin yang berhembus aku telah selesai menuliskan, tulisan ke 567, barangkali inilah tulisan terakhirku untuknya, di bawahnya ku selipkan sebuah kalimat, "terima kasih sudah menjadi nyawa dalam setiap tulisanku."
Entah dia juga merasakan hal yang sama atau mungkin sebaliknya aku tidak mau beri simpulan belaka, sebab kedalaman hatinya tak mampu untuk aku selami hingga dasarnya meski beribu malam telah terlewati dengan bertukar cerita, jika pun sama biarlah semesta yang mengaturnya tepat dan tetap, dan jikapun tidak semesta juga yang akan menghilangkan rasa ini pada waktunya. @barakelana​ x @langitawan​
----
Entah sampai kapan kumampu menahan. Perasaan yang semakin lama kian dalam. Sebuah rasa yang tak kumengerti artinya. Kita belum pernah saling memangkas jarak. Namun hanya melihat simpul senyum gambarmu mampu mendatangkan tenang.
Keras yang engkau tunjukan menyimpan kelembutan yang tak mampu kuabaikan. Dan ku tak pernah bosan menanti unggahan cerita yang setiap hari engkau bagikan.
Hai Neptunus, mungkin bagimu aku hanya teman dunia maya. Tapi bagiku engkau begitu istimewa. Biarlah perasaan ini terus bersemi walaupun hanya di salah satu hati.
-
Mencuri pandang di tengah kerumun ramai. Sesak juga mencuri kabarmu diam-diam. Tapi untuk semua itu, aku bisa. Sebab kamu adalah segala hal yg kutunggu; dengan atau tanpa rindu.
@zulzone​ x @worldofneptune​
----
Semenjak senyummu warnai malamku, ada rasa berbeda yang selalu terngiang dibenakku. Namun, jika rasa ini ku utarakan padamu dan yang lain tau, apa nantinya tak ada yang sakit hati lantas berujung cemburu?
Saat sorot teduhmu diam diam menjadi naunganku, bahkan melihat bayangmu kini menjadi candu. Meski seiring berjalannya waktu kau tetap membisu dengan ketakutanmu. Lantas apa pentingnya ada yang cemburu sedang mengungkapkannya saja kau masih ragu.
Sungguh tak sedikitpun ragu akanmu perihal rasa ini. Namun apa untungnya sebuah hubungan jika ada hubungan lain yang mesti dikorbankan?
Imajinasi kita selalu bercumbu dengan kemungkinan buruk berwujud semu. Hingga luput akan perasaan yang semestinya diungkapkan. Mari kita arungi bersama, hamparan cinta yang selama ini tersimpan rapi dalam diam.
@fadlybachtiar​ x @manifestasi-rasa​
---
Jika kamu dengar aku berbicara,
"Dia cocok ya sama kamu"
maka itu adalah kalimat kebohongan paling besar yang pernah aku buat. Karena sungguh, aku berharap kamu bertanya perihal apa yang aku sembunyikan dibalik topeng persabahatan ini.
Aku memang pandai menyimpan rasa, dan kamu tak jeli melihat apa yang kamu damba.
Sayangnya aku hanya mampu menunggu.
Jika rasaku tak ditakdirkan sampai kepadamu, percayalah senyumanmu sudah lebih dari cukup untuk membalut luka yang seharusnya tak pernah ada.
X
Aku seringkali bertanya kepada diri sendiri. Sedang terus berhati-hati mengira dan menerka, dibalik pencarian dan perjalanan ini.
Aku sadar, selain diri menjadi sosok yang baik hati untuk semua orang yang kusayangi, terlampau itu aku tengah berperan sebagai pembohong handal.
Jika tulisan ini sempat kamu baca, ketahuilah aku sedang jatuh hati untuk kesekian kali kepada dia, sahabatku sendiri.
"aku terlalu lelah untuk membohongi diri sekian kali. Namun terlalu ragu untuk berani mengakui"
@rajuami​ x @mengejasendu​
---
Semua rasa ini kusadari dan rasakan sepenuhnya tanpa kutolak kehadirannya. Aku menikmati setiap moment dimana harus kutata rindu. Aku menikmati setiap moment dimana harus kutahan diriku untuk berbagi pesan denganmu.
Sesekali aku menulis namamu di browser. Walau yang kutemui adalah rangkaian pdf dan photo resmi berlatar kuning. Kutemui kau di dunia maya, nampak baik dan bahagia saat itu pula aku lega. Walau mungkin dibalik semua itu ada beban yang kau pilih untuk menyimpannya sendiri. Aku ingin berkata kau hebat, namun tak kulakukan.
Mencintaimu dalam diam adalah upayaku menjaga kita. Walau sesekali aku bertanya, sampai kapan perasaan ini akan terpendam ? Riuhnya kadang tak bisa ditahan.
Persimpangan ini, semoga pada waktunya menemukan titik temu. Walau rindu, walau ingin aku mengirim pesan, biarlah kunikmati rasa ini sendirian.
"Semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga, semoga aku mampu memantaskan diri untuk menjadi bagian dari kisahnya"_, bisikku kepada-NYA untuk kesekian kalinya diwaktu sesudah malam.
Untukmu, semoga selalu terjaga dalam kebaikan.
Semoga terang, selalu membersamaimu.
@benkss​ 💔 @irnanurs​
---
Pojok Kelas Tadika Mesra, 15 Agustus 2020.
267 notes · View notes
malamkontemplasi · 4 months ago
Text
Ketika Hujan Mengulitimu
Tumblr media
@miakamiya 
Kugenggam sepotong cinta yang telah lama kurawat selama belasan tahun, yang ingin kuberikan hanya kepadamu dengan senyuman dan suara merdu saat menyapamu. Warna cinta yang masih merah bersinar ini  pastinya ‘kan membuat rona pipimu. Mungkin saat itu terjadi, aku menjadi salah tingkah, kikuk, malu dan berdebar-debar jadi satu. Melihatmu adalah alasan bagiku untuk menikmati hidup, untuk semua itu, aku berucap beribu syukur kepada Yang Kuasa.
Sejauh yang kuingat, kita hanya bocah ingusan kala itu. Tidak mengetahui rasa apa itu. Kita hanya kerap bermain bersama. Terkadang tanpa alas kaki, menginjaki rerumputan sembari berpegangan tangan. Kita menari-nari di bawah sinar matahari hingga langit merambat berwarna jingga. Wajahmu yang seakan-akan merona diterpa warna senja—kuning  kemerah-merahan, merah kekuning-kuningan.  
Entah berapa banyak festival kuhadiri bersamamu, demi melihat senyummu merekah. Caramu memanggil namaku yang kerap menggema di dinding hatiku. Saat kita memandang langit malam hari dan kulihat bayanganmu dengan jelas di sana, dan berpikir seperti orang bodoh, apakah kau juga melihat bayanganku sama halnya denganku?
Masih ingatkah kamu, sewaktu duduk di sekolah dasar, kelas 6 tepatnya, kauterjatuh dan aku menggendongmu di punggungku, entah kepada siapa kumemohon, untuk tidak membiarkanmu lepas dari punggungku, dan berdoa sedikit lagi, tolong, biarkan kami tetap seperti ini, sedikit lebih lama lagi.
Tak dapat kutemukan kata yang pas, perasaan apa itu.
Sayangnya, aku mulai menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar itu. That blooming feeling, I must know what it is. Itulah yang kupikirkan, demi mengetahui, kenapa perempuan yang hanya memakai baju tidur saat menonton pertunjukan wayang malam itu, begitu... sempurna.
Aku harus mengurai perasaan apa ini, kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat bersamanya, kenapa aku merasa bahagia saat dia terus berada di dekatku. Kenapa aku ingin keadaan ini terus berlangsung selamanya.
Uke, di mataku kau tak memiliki cela. Mungkin Tuhan telah bermurah hati menutupi aib-aibmu di hadapanku sehingga kukira, kaudikirim oleh-Nya, sebagai malaikat berwujud manusia yang kian membuat indah imajiku terhadapmu. Hal itu pula yang membuat manusia-manusia itu iri kepadamu dan menyebarkan berita tak benar tentangmu. Itu hanya persepsi mereka. Tak jadi soal bagiku.
Ingatlah Uke, ketika kauingin menyerah, saat langit tak lagi bersahabat, saat orang-orang yang kausebut teman, pergi entah kemana. Aku adalah laki-laki yang akan selalu berdiri di sampingmu: seperti tempat berteduh yang kausebut rumah; atau seperti payung yang melindungimu saat hujan.
“Jangan menangis, karena aku ada di sini melindungimu.”
Menurutku, kau adalah Uke, seorang wanita luar biasa yang dicintai oleh laki-laki biasa sepertiku. Aku pun akan tetap mencintaimu, jatuh cinta kepadamu, meskipun kauberwujud kucing, capung, atau kupu-kupu sekalipun. Dan aku akan tetap menyukaimu bahkan hingga di kehidupan-kehidupanmu selanjutnya.
Terima kasih telah lahir ke bumi dan membuat indah hujan rinai ini, bersama warna hijau daun; warna-warni bunga; menambah lengkap latar belakang dirimu berdiri saat ini.
Uke, garis hidup manusia memang gampang-gampang susah ditebak. Tuhan hanya mengizinkanku untuk sekadar bisa takjub memandangimu dari jendela kelasku. Tuhan hanya mengizinkanku untuk sekadar merasakan keheranan saat kau meminjam penggarisku saat ujian semester saat masa sekolah dulu. Dan karena kejadian kecil itu, aku bisa melihat dengan jelas wajahmu yang putih dan bercak cokelat di sekitar hidungmu yang kecil dan mancung itu. Itulah saat kali pertama kumenyadari perasaan apa itu.
Tuhan hanya mengizinkanku untuk sekadar tertawa bersamamu saat kaumulai bertingkah konyol dan lucu. Tuhan hanya mengizinkanku untuk sekadar bertemu denganmu dalam setiap mimpi-mimpiku yang selalu membuatku tertawa dan merasa nyaman, sekaligus juga merasa berbunga-bunga ketika berada di dekatmu. Di mimpiku, kaumilikku seorang, tanpa ada yang mengintervensi, kecuali mimpi terakhirku bersamamu yang membuatku harus cemas ketika terbangun. Kau pergi bersama teman SMA-mu, lebih tepatnya... dia adalah pacar pertamamu.
Mencintaimu, Uke, membuatku menyadari bahwa terkadang hidup itu berat sebelah, hidup itu tidak adil, hidup itu semu, hidup itu... mengecewakan. Membuatku menyadari bahwa cinta itu hanya untuk dongeng-dongeng sebelum beranjak tidur.
Uke, cinta ini telah membumbung tinggi dan dalam seketika tergelincir ke bumi, menjadikanku manusia yang tidak menginginkan lagi mencari cinta, segan bermimpi, dan berangan kosong. Aku pun sempat kuberpikir bahwa perkawinan itu sia-sia untuk orang sepertiku. Pernikahan itu hanya menjadi sebuah kewajiban tanpa esensi bagi manusia dan tidak ada kata tawar-menawar.
Kata “pernikahan” membuatku tergagap, bergidik ngeri, apakah nantinya dapat mempertahankan sebuah perjanjian besar yang menurut orang-orang itu suci. Ya, pernikahan itu suci dan menyempurnakan manusia. Namun, hal yang paling krusialnya adalah, apakah aku dapat mencintai orang lain selainmu, Uke?
Sekarang, tidak ada lagi bidadari dalam mimpiku yang berambut panjang, dengan senyum khasnya, memakai kemeja flanel warna merah dan jeans biru navy, yang membisiki kata-kata lucu dan menyebarkan gelak tawa di seluruh awang-gemawang.
Uke, aku rindu. Biarlah segala kesunyian ini menjadi milikku seorang. Biarlah foto kita yang berukuran 4R saat studi ekskursi ini yang menjadi pelipur laraku. Biarlah siluet punggungmu yang kulihat dari jauh, cukup memenuhi rasa kangenku padamu. Biarlah lagu favorit kita berdua menjadi pengantar tidurku dalam menikmati reminisensi bersamamu.
Tuhan hanya mengizinkanku untuk sekadar bercanda dan bermain di taman bermain bersamamu, menghabiskan malam setelah jam pulang kantor. Tuhan hanya mengizinkanku untuk sekadar mengagumimu, mencintaimu, mensyukuri kehadiranmu sebatas sepihak. Cinta yang sedari tadi kugenggam, kini membeku. Takdir telah menuntunku untuk melihat sesosok pemuda yang berjalan ke arahmu dan memakai cincin bermotif senada denganmu.
Takdir jugalah yang membuka mataku bahwa kautelah memilih pria lain. Dalam balutan kebaya berwarna cokelat emas, kautampak semringah bersanding dengannya. Ah, Uke, kenapa harus dengannya? Dia tidak pantas berdampingan denganmu. Kenapa bukan aku? Apa yang menarik darinya? Apa bagusnya dia? Apakah kautidak menyadari, dia tidak dapat mencintaimu, seperti aku mencintaimu?
Tidak dapatkah kaumerasakan setiap perhatianku padamu? Apakah semua cinta yang kuberikan tidak cukup menemukan siapa pria yang tepat untukmu?
Seperti orang idiot, aku menunggumu di tempat yang sama; memandang jendela kamarmu yang masih gelap; sepeda merah yang biasa kaunaiki saat pergi ke sekolah dulu; minimarket tempat kita belanja kudapan saat mengikuti grup belajar dulu; saat-saat aku pernah membohongi diriku sendiri dan berakting seperti teman biasa di depanmu; semua itu ingatanku padamu.
Semua kenangan bahagia itu menyakitkan. Sesakit usahaku untuk meyakinimu ketika menyampaikan rasa sukaku padamu. Waktu kini semakin larut, kini aku menderita insomnia. Aku tahu cinta adalah rasa sakit. Akan tetapi, haruskah aku ‘dihukum’ sekejam ini karena mencintaimu?
Janji yang dulu kita ikrarkan, masih kujaga hingga sekarang. Hangat tanganmu saat kita sama-sama memegang payung ketika hujan turun. sedetik pun tidak akan pernah melupakannya. Jejak aroma parfummu yang tak bisa hilang, masih tersisa pada barang-barang pemberianmu. Takdir kita memang sudah terputuskan, namun hatiku masih sama, mengharapkanmu.
Musim berganti. Kukatakan kepada diriku sendiri, “sudah cukup”. Kini, surat cinta yang pernah kutulis untukmu telah usang. Sia-sia kuselipkan di kotak suratmu. Surat yang berisi pernyataan cintaku yang tulus, di sini, aku berulang-ulang menyatakan cintaku seorang diri di malam yang menyedihkan ini. Berulang-ulang menyatakan, aku menyukaimu lebih darinya, walaupun mungkin hanya sebuah April Mop untukmu.
Meski kutetap bermimpi tentangmu, seperti deja vu, kuterus memanggil namamu lagi dan lagi. Kini semua terasa getir. Selamat tinggal, Uke. cinta pertamaku, perempuan yang telah memberikan warna-warni bagi kedua mataku.
Kutatap kursi kosong di taman tempat kita biasa bermain, tenggelam bersama raut wajahmu yang masih tersenyum manis dalam memoriku. Selamat tinggal, Uke. Wanita yang pernah datang dan pergi membawa sebagian hidupku.
Kau telah memilih.
I softly whisper, wishing your happiness.
Seketika rinai ini menjadi bumerang bagiku. Melunturkan warna merah cinta yang sedari tadi kupegang hati-hati. Rinai itu berubah menjadi hujan deras bersama butiran-butiran air jernih dari sudut mataku. Meninggalkan cinta yang merah pudar dan tak berpendar ini bak diorama satu warna, hitam dan putih, tanpa jejak-jejak kehidupan di situ.
Depok, 2017
4 notes · View notes
thisissomeone · a year ago
Text
Buat si kebo yang pedenya masyaallah
Entah sudah berapa lama aku tidak lagi menulis puisi. Aku sengaja berhenti, sebab segala yang aku tulis akan selalu berujung pada tema luka. Baik secara sengaja ataupun tidak, selalu saja luka, luka, luka. Aku lelah. Jadi aku berhenti menulis. Mungkin dua bulan yang lalu adalah yang terakhir, tapi entah, aku lupa kapan tepatnya. Yang jelas, yang paling aku ingat, puisi terakhir adalah puisi untukmu. Isinya perihal merelakan.
Sebelumnya, kau lebih dulu mengirim tulisan untukku, isinya perihal pamit yang kau bilang mampu mengantar kita menuju bahagia yang lain dan meninggalkan bahagia yang sudah babak belur dibelut luka. Sebagai contoh, mungkin yang kau maksud adalah dirimu sendiri. Kau yang dengan mudah menemukan bahagia yang lain setelah berpamit. Apapun maksudmu aku tidak peduli bagaimana benarnya. Tapi, kepalaku masih menilaimu baik, mataku masih melihatmu bersayap, dan hatiku, tentu, masih menyayangimu. Jadi, kuanggap tulisan itu hanya sebuah permintaan supaya aku bisa bahagia, bahkan setelah kau pamit.
Kemudian puisi terakhirku lahir. Isinya perihal merelakan dan kebohongan bahwa aku sudah bahagia dan akan terus bahagia. Ya, aku berbohong. Alasannya, supaya kau tidak merasa bersalah atas tetes air mata yang masih saja jatuh hingga hari ini, yang masih saja jatuh saat tiba tiba suaramu sayup sayup kembali terdengar di telingaku, atau namamu tiba tiba terbesit dalam benak, atau apa saja yang bisa membawamu kembali muncul sebagai kenangan.
Mungkin singgah yang sebentar itu sudah cukup bagimu. Dan saat kau berpamit, tanda segalanya akan selesai, aku tidak kaget apalagi bertanya tanya. Aku hanya lupa. Lupa bahwa sedari awal aku sudah tahu, aku adalah persinggahan dari segala penat, lelah, kesepian kesepian, luka luka, keterpurukan dan apapun yang membutuhkan tempat untuk bersandar, tapi bukan sebagai rumah untuk pulang. Aku hanya persinggahan. Dan kau hanya singgah. Setelah semua pulih. Kau pamit. Kita selesai.
Kemudian aku akhirnya tahu. Kau sudah menemukan tempat bersandar yang jauh lebih nyaman dari pada aku. Entah ia akan kau jadikan rumah atau lagi lagi hanya sebagai persinggahan.
Apa urusanku?
Jadi, rindu yang selama ini kutabung karena kukira kau akan kembali pada akhirnya, kini harus aku simpan rapat rapat sendirian. Rindu yang cantik sekaligus malang yang tak kunjung menemukan kesudahan ini biar kurawat seorang. Rindu ini cuma sepihak, ia tak layak meminta tuannya. Selamanya, rindu yang kutabung ini takkan kupecahkan.
Tapi hari ini aku kembali menulis. Tidak peduli jika luka yang hampir kering ini kembali sobek dan menganga lagi. Aku cuma ingin menulis pesan ini.
Kapanpun kau butuh tempat bersandar, kembalilah, singgahlah lagi. Aku masihlah persinggahan. Ini sebabnya aku kembali menulis.
Aku masih menyayangimu sebagai teman. Bukan sebagai yang lainnya, lagi.
36 notes · View notes
memelukawan · a year ago
Text
sudah tidak ada tempat untukmu.
Betapa sedihnya menjadi yang ditinggalkan. Betapa malangnya menjadi yang selalu berkorban. Betapa lelahnya menjadi yang senantiasa berjuang. Kupikir kita adalah "saling" yang "menguatkan". Ternyata bagimu aku hanyalah sekadar pengisi waktu luang, teman yang kau butuhkan; disaat kau sedang merasa kesepian.
Aku tidak pernah menyangka bahwa menjadi yang mengasihi terasa begitu perih. Aku tidak pernah main-main dengan janji, tapi mengapa kau justru mudah sekali mengkhianati kisah ini? Kukira kau rumah, ternyata sekadar singgah.
Kamu pikir, aku perempuan seperti apa? Tentu saja aku rela berjuang untuk membuatmu bahagia. Tentu saja aku ingin meringankan bebanmu, ikut serta dalam upayamu menggapai segala mimpi, namun lagi-lagi; bagimu aku ini tak berarti. Hadirku jadi sesuatu yang kau hindari, sungguh betapa perihnya. Lagi-lagi, batin ini terluka.
Silakan kamu pergi. Lakukan segala sesuatu yang jadi maumu. Tentu aku tidak akan hadir lagi dalam cerita indahmu. Apalah arti sebuah perjuangan, kalau kamu tidak bisa menghargai setiap upaya atas letih yang terlaksanakan. Toh aku dalam hadirmu, adalah wujud kesia-siaan perjuangan yang lekas bertemu perpisahan.
Memang benar, hidup tak melulu perkara cinta. Tapi jangan lupa kalau kerja kerasmu adalah perkara yang di dasari cinta; kecintaanmu pada kedua orang tua. Aku pikir, semua hal di dunia ini harus dilakukan dengan cinta, hanya saja; kamu tak mencintai aku. Makanya kau gencar menyingkirkanku dalam hidupmu.
Selamat tinggal. Sudah tidak ada tempat untukmu. Hatiku, kini telah penuh dengan kecewa. Segala hal yang sia-sia. Kamu adalah aamiinku yang ditolak oleh semesta.
Terima kasih atas segala cerita indahnya, kamu memang istimewa bagiku. Tapi apalah arti semua itu, jika aku masih kurang untukmu. Apalah arti semua itu, jika upayaku tak bernilai bagimu. Selamat berjuang sendirian. Aku tidak akan ada lagi. Selamat menggapai mimpi-mimpi. Semoga kau temukan ia yang senantiasa mendoakan keselamatanmu; sebagaimana aku dulu ada, dan tak pernah alpa menyebutmu dalam do'a.
24/11/20
15 notes · View notes
kphpdraisme · 10 months ago
Text
Sana belajar berteman!
Tumblr media
Jadi... gini. Aku sedang mengingat ingat masa dahulu, dulu itu, aku bisa begitu kenapa ya.  kenapa sekarang aku tidak ada itu ya. tapi, kenapa aku biasa aja ya. hem.
Kenapa dulu aku butuh cemimiw ya. Rasanya hidupku tak seberat itu. Dan, aku tak selemah itu. Dan daya ingatku dulu lebih baik dari pada sekarang, yang berarti sebenarnya aku yang sekarang lebih butuh untuk diingatkan makan-sholat-dan segala pengingat lainnya, haha. 
Yok, cerita sejarah sedikit. Apa guna ingatan jika tidak untuk menampar diri sendiri ya, he. Alhamdulillah.
Dulu, rasanya aku sebutuh itu untuk diakui cantik. Butuh untuk yakin bahwa ada seseorang yang akan mendukungku selalu. jikalaupun tidak, atas permasalahanku dia akan memberikan solusi seakan itu masalah hidupnya.  Butuh untuk diam diam ternyata dia mendoakan segala kebaikan untuk hidupku di setiap sujudnya, bahkan keberlangsungan hubungan kita.  Butuh untuk diperhatikan segala aktivitas kecilnya, diingatkan untuk hidup, macam sholat-makan-tidur-bangun-belajar-minum air putih-olahraga. Butuh untuk selalu disemangati setiap hal kecilnya. disemangati jika menulis, memasak menu resep baru, membaca buku yang tebal.  Butuh ada orang yang bersedia mendengarkanku berceloteh kesana kemari. tentang pantaiku hari ini, seprai yang baru kuganti, atau jendelaku yang rusak tiba-tiba. Butuh ada orang yang memaksaku menjaga kesehatan hingga rela mengirim ini-itu agar nafsu makanku membaik.  Butuh ada orang yang menerima keanehan berfikirku, sepaket dengan tidak kaku diajak diskusi dan tetap renyah saat bercanda. Butuh ada orang yang mengetahui betul apa yang tidak kusukai, apa yang kusukai, dan siap memberikanku kejutan-kejutan disertai kalimat panjang penuh kehangatan.  Butuh ada orang yang akan sangat bangga dengan pencapaianku juga akan sangat sedih dengan musibah pada diriku.  Butuh ada orang yang rela menemaniku jika tidak bisa tidur, bahkan mengajariku dengan super sabar akan sesuatu yang akupun telah menyerah dengannya.  Butuh ada orang yang aku yakini akan selalu ada kapanpun aku butuh. akan menjawab chat dengan cepat dan semangat. akan menyambutku setiap detiknya dengan ‘versi terbaik’ dirinya. 
Dulu, aku sangat butuh seseorang yang tulus dalam membersamaiku. tanpa takut, ternyata diam-diam dia memperbincangkan aku dari belakang. atau ternyata dia tidak merasakan apa yang kurasakan padanya.   Haha, lalu apa mendadak sekarang aku tak butuh semua itu? apa aku sekarang adalah manusia super yang harus membatasi hubunganku dengan manusia lainnya karena takut setiap orang disekitarku dicekalakai oleh musuhku?
Jawabannya : Tidak.  Aku tetap butuh itu semua. dan.....aku tetap bukan manusia super. 
Aku tetap butuh diingatkan, didengarkan, diberikan sesuatu, diomeli, dipuji, didoakan, diajari, diperhatikan, dicintai.   Tapi sekarang, alhamdulillah, aku tidak butuh satu orang. Ternyata, aku telah punya banyak orang. Tepatnya, ini pekerjaan banyak orang.
Pergantian kepengurusan ini juga tidak berlangsung dalam sekali malam, ada sekitar 3 tahun untuk memahamkan diriku sendiri. Sehingga aku sangat berterima kasih luar biasa, kepada 128 anak dan pawang mereka dan segala manusia hidup di kampus peradaban itu.  Yang berhasil membuat seorang fatimah sadar, bahwa menyayangi segila itu  adalah hal normal. Kehangatan yang wajar kau berikan dan dapatkan, tanpa harus hanya berpaku pada satu orang. 
Semacam, dahulu salah seorang guruku di kampus peradaban pernah bercerita tentang beliau yang rela berjalan berkilo-kilo meter di malam hari, dari stasiun pemberhentian bus terakhir hingga rumah beliau sendiri. Beliau melarang keras istrinya menjemput beliau kala itu , hanya karena itu sudah malam hari. Tidak baik jika keluar malam tanpa saya dan pula istri saya pasti sudah lelah seharian mengurus rumah.  Oh jelas sekali, respon kami para wanita akan meleleh tingkat dewa. Manisnya! Tapi respon bapak ini menamparku, 
‘Hei, ini tidak manis sama sekali. Ini sebuah kewajaran, bahkan merupakan anjuran dalam agama kita’
Oke, semacam di tampar dua kali. pertama karena sangat terlihat ya, kami seperti minim pengalaman tentang hal ini. kedua, sangat terlihat betapa aku tidak paham dengan ajaran cinta agamaku sendiri.  Kukira, sebuah kelangkaan, ternyata adalah kewajaran. 
Setelah itulah kemudian, kucoba melirik beberapa kisah tentang bagaimana muslim seharusnya bersikap kepada sahabatnya. yah, meskipun kalo sesuai cerita guruku, harusnya kisah yang kucari adalah tentang ‘bersikap kepada pasangan’ tapi kita sadar langkah saja ya. haha. guaya banget. 
Dan, pusing kepalaku membacanya. 
kenapa Allah-ku seserius ini terhadap pertemanan?  Bahkan menjadikan kecintaan terhadap saudara karenaNya sebagai syarat meraih manisnya keimanan. Bahkan mengatur lamanya boleh perang dingin terhadap saudara seiman. Bahkan menghalangi diberikannya pahala jika terjadi permusuhan. Bahkan menyetarakan senyuman kepada saudara dengan shadaqah. Bahkan menyebut Agama ini sejatinya adalah nasihat. Bahkan mengatur 6 hak antar sesama muslim. 
Ah, pusing kepalaku membacanya,  Kenapa para Anshar bisa mengorbankan hampir seluruh hidupnya pada kaum pendatang yang miskin, yang baru dikenalnya, yang tak jelas rimbanya, yang bahkan hanya teman mereka?  Kenapa satu keluarga dahulu rela menyuguhkan makanan terakhirnya dan membiarkan keluarganya kelaparan malam itu hanya demi teman mereka? Kenapa mereka bisa mereka mencintai segila itu kepada banyak orang yang bahkan hanya teman mereka? 
Agaknya benar kawan, kita mengalami degradasi rasa kasih sayang besar-besaran kepada jenis hubungan bernama pertemanan.  Mungkin salah satu diantara ribuan alasan kenapa tak pernah ada bab ‘hubungan muslim dengan pacarnya’ karena sungguh egois jika kehangatan yang sewajibnya disebarkan kepada banyak orang, kau pangkas hanya untuk satu orang saja.   Terlalu banyak kewajiban kepada sesama teman yang kita alih fungsikan kepada pasangan(itupun semoga pasangan halal). Padahal, dua jenis kewajiban ini jelas sangat berbeda porsi beratnya. Akhirnya, berujung pula pada terkikisnya kemanisan hubungan dalam pasangan yang sebenarnya. Ah, miris sekali. 
Jadi untuk diriku sendiri, jikalau kedepannya kamu merasa seperti manusia kurang kasih sayang, seperti manusia haus perhatian, seperti manusia yang tidak bisa menghadapi dunia tanpa kehangatan yang berarti, dan tiba tiba kamu mau mencoba jalan yang kamu tau pasti itu tak pernah diridhoi Allah-mu,   Setelah keluarga, segeralah hubungi teman-temanmu. Sungguh, akan kau dapatkan semua kasih sayang yang kau butuhkan pada mereka.  Jikalaupun belum dapat, kumohon dengan sangat, ubah caramu berteman, baca kembali cara Nabimu bersahabat. Pasti ada yang salah dalam caramu mencintai saudaramu. 
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45]
Ah coba, siapa yang butuh pacar jika Allah sudah menangguhkan kesempurnaan iman hanya demi sebuah hubungan persaudaraan? Maenannya, iman loh coi. bayangkan seapik apa islam mengurus ranah ini! Jadi kesimpulannya jika tidak mau susah?  Logikanya, cintai saja mereka yang terlihat begitu berambisi terhadap keimanan. haha. tak akan kecewa deh, dijamin.  Tapi, kalo tidak mau susah payah menyortir hati manusia yang jelas takkan pernah bisa dibelah dan ditelaah imannya, mending kita duluan aja yu, yu kita yang duluan yang banting tulang mencinta dengan kaidah yang benar. Asli deh, lumayan banget loh pahala jariyahnya kalo diikuti banyak orang.
Dan barakallahu fiikum banget reinforceku! Semoga semua kasih kita berlanjut hingga surga ya:”““““ Mereka bukti nyata alasan kenapa saya mendapatkan kehangatan sempurna ditahun-tahun terakhir ini dan menjadikan butuh alasan sangat kuat untuk menjalin hubungan tak benar seperti dahulu. Dan jangan salah, mereka nih yang duluan mencintai dengan cara Ilahi! Jadinya bener bener bikin aku berkali kali berucap dihati : Wow, ternyata pertemanan bisa segila ini! MashaAllah!  Untuk detail segila apa mereka mencintai saudaranya, coba baca tulisan tulisanku yang lain ya haha! 
Uh, bener bener deh, selalu amazed ketika menyadari bahwa apapun yang disandarkan dengan Zat yang Maha Abadi tak akan pernah kandas! 
Jadi, selamat berteman dengan benar dan merasakan kehangatan yang sebenarnya!  Dan akan 500000x aku ingatkan ya fatimah, apapun yang terjadi kedepannya, jangan sok lemah dan butuh perhatian, kamu tidak akan pernah mendapatkan kehangatan yang kamu butuhkan, dalam hubungan tak teridhoi itu. Jangan didekati apalagi dijalani. titik. gabole sok pinter lagi. shut, diem lo nis. 
6 notes · View notes
kawanimajiner · 4 months ago
Text
Bincang!
saat lengan berpeluk hangat dengan tubuh, juga kepalaku yang tengah bersandar mesra padamu, aku kemudian menoleh diantara semburan nafas ringan yang melewati telingaku, --
(terasa menggelitik, tapi aku menyukainya!)
katamu, “aku belum mengantuk, udah kelewat ngantuknya tadi sebelum pergi lapor ke rumah Pak RT, ..... -- mmcchhh”. kemudian suara kecupmu merdu terdengar olehku yang dilanda euforia roman sang pengantin baru.
berselang lima detik saja, .... semburan nafas ringanmu berubah menjadi dengkuran yang kian gempar memekakan telinga.
tak sampai detik ke tigapuluh seperti biasanya. aku sedikit tertegun, kukira kau akan terjaga kali ini. menanyaiku banyak hal tentang yang kulewati sendirian selama delapan jam kau menghilang dari pandangan. 
aku egois!
padahal sedari kau muncul di depan mataku senja tadi, aku menyaksikan peluh dan mata sayupmu yang tak tertahan. yang ku tahu memang kita banyak terjaga semalam.
aku mengira, mungkin kau lewati hari yang cukup berat saat di kantor tadi .... kasian suamiku!
atau, ... kau bisa saja mendulang kesal soal pekerjaan yang tak kutahu hari ini,
atau ..... kau juga cukup lelah menahan rindu padaku di hari senin yang memuakkan ini.
atau, ..... entahlah!
sejuta alasan hadir dikepalaku saat melihat wajahmu tadi. dan yang aku punya hanyalah sebuah pelukan ringan untuk mengalihkan lelahmu.
tapi, aku egois!
sungguh ingin aku berbincang dan bercanda denganmu. bertukar lelucon tak ampuh yang ternyata membuat kita berkelakar hebat. atau, kita berbincang ringan soal kalimat hangat sebagai topik cerita cinta saat kita berkenalan singkat di waktu lalu.
tapi, aku sungguh egois!
melihatmu memejam mata terlebih dahulu, membuatku menelan ludah dan rasa kecewa yang mungkin kecil tapi tak remeh!
aku sedikit bersedih!
padahal, bukan sesuatu yang hebat untuk kujadikan alasan marah dan cemburu, tapi aku merasa sedih. saat hanya 30 menit waktu untukku untuk berbincang denganmu. tak banyak kata, tak banyak hangat dan tak banyak cakap ........
adakah berbincang denganmu menjadi candu baru bagiku? hingga kudapati kecewa bila tak kulakukan walau hanya sekali. 
adakah berbincang denganmu menjadi candu baru bagiku? hingga kudapati obrolan rindu ini tak terbayar walau hanya dengan sebuah kecup mesra sebelum tidur.
adakah berbincang denganmu menjadi candu baru bagiku? hingga kudapati amarah memuncak bila kau berpaling mengabaikanku, bahkan karena lelah sekalipun!
adakah berbincang denganmu menjadi candu baru bagiku? hingga kudapati diriku begitu tergantung pada waktumu
adakah aku, begitu mencintaimu?
hingga kudapati diriku tak berdaya soal hilangnya hadirmu.
"berbincang"
rupanya ini penyakit baruku!
1 note · View note
gayleshanan · 6 months ago
Text
Kukira Kau Rumah
Hujan kala itu membangkitkan semua rindu yang sempurna menyatu Menyadarkan jiwa-jiwa yang terbengkalai diantara kehidupan yang fana Puja-puja dunia yang kini menjadi trend semata Tak tau apa makna sebenarnya
Sedih, tak pernah terlintas untuk menyambut kemungkinan yang paling mungkin, kepastian yang paling pasti Lebih dekat dari nadi, lebih cepat dari kedipan mata Apakah sudah sebegitu yakin dengan apa yang hanya bisa kau lihat?
Kata "Kau yang singgah tapi tak sungguh" Tak selamanya mengartikan perasaan Dunia terlalu luas jika berbincang prespektif kehidupan Apakah kita yang hanya singgah ini, sudah benar-benar sungguh? Dan apakah kita sudah menyiapkan purnama yang sempurna ketika Dia meminta kita untuk pamit?
1 note · View note
ceritanyaiffah · 9 months ago
Text
Mbak-Yun.
Tumblr media
Dipikir-pikir, setelah petualangan bandung, jarang kali diri ini bertemu orang yang macam mbak-yun. Polos, lugu, dan sederhana. Gambaran perpek buat mbak-yun ku yang berharga. Pembuat salah satu faktor rumah jadi ayem sentosa. Karna dah jarang lagi dah tu sirine merdu "Lho habis makan ayo pada cuci piringnya!" Atau "Mbak ini udah disapu belum, kok masih ada semutnya?!", yang kukira kalian pasti dah paham dari siapa wkwk.
"Mbak-yun, ini nanti sayurnya dibuang aja ya. Udah ndak ada yang makan.." ujarku singkat disuatu siang.
"Eh, mana mbak iffah? Coba kuliat sini. Kayak e agik enak ni mbak, dak apelah, ku malah suka sayur kemaren. Lebih meresep rase e. Jangan dibuang, ku bain yang makan.." Padahal kuah sayur tak sampai seperempat jengkal sisa.
Atau,
"Mbak iffah, nasi ni jangan ok dibuang. Ku suka nasi dingin. Pacaklah ku kelak makan e."
Mataku hanya melirik pada nasi dingin berkerak di meja.  Atau adegan lain, yang tiap makan tak mau duduk dimeja, tapi dengan takzim duduk bersila, menikmati nasi dengan tangannya walau lauk berkuah sekalipun. Sungguh, bukan suguhan adegan sinetron kejamnya orangrumah pada khodimahnya.
Awalnya, tiap mbak-yun berkata demikian, sering kali ku-utarakan nada keberatan. Bukan apa, karna bagi keluarga kami, setiap yang datang pada rumah adalah keluarga. Maka apa yang kan masuk ke perut kami, juga apa yang terguna akan sama. Mengerti-ku pada mbak-yun-pun menjadi lama.
"Mungkin dulu mbak-yun hidupnya susah.." ujar ringan babe pada satu masa kubercerita perihal mbak-yun.
"Susah gimana? Kan jadi kesannya kita yang jahat gitu. Padahal juga udah sering kukasih tau.." Adu-ku, masih dengan pemahaman yang sama.
"Iya. Jadi mungkin, karna saking sulitnya kehidupan mbak-yun, dia sangat ngehargain apa yang dia punya. Keluarganya dulu hanya bergantung dari uang pensiunan timah 300 ribu kan, sebulan?"
Aku termagu. Betul juga. Dengan jumlah anggota keluarga yang lumayan, tidak memiliki bapak rumah tangga, dan uang yang tak seberapa. Mencelos hatiku rasa-rasanya. Diri pribadi saja sudah berkilo-kilo naik selama #dirumahsaja, menunjukkan seakan lupa dan tega, bahwa masih banyak diluar sana, yang mengunyah nasi dengan lauk sisa pun sudah bahagia luar biasa.
"Mbak iffah, kuah lempah kuning buat ku bain, ok?" Aku menoleh, untungnya dengan pemahaman yang sudah berbeda.
"Boleh mbak.."
"Tapi ni ade tenggiri pindang, berkuah juga. Lebih enak. Mbak-yun makan ni bain. Lebih bergizi. Okeh?" Kubujuk dengan sedikit semburat di bibir.
"Hmm.. aoklah pun." Dengan perlahan kuah lempah tadi terbuang perlahan, diiringi wajah sedih mbak-yun. Yang seakan tengah berat melepas emas 24 karat.
Duhai Allah, maka kau sungguh sayang..
Mulai sekarang kita makan yang enak ya, mbak-yun!
---
In pict. : scoopy biru dan jas hujan kesayangannya. Kalo tunjuk muka bisa-bisa doi terkenal dan bikin berabe ya, wkwk.
2 notes · View notes
manojpunjabi · 3 months ago
Text
Official First Look KUKIRA KAU RUMAH
Official First Look KUKIRA KAU RUMAH
Di mana pun aku berada, selama itu di sampingmu, aku seperti merasakan teduhnya rumahku. Official First Look KUKIRA KAU RUMAH. Segera! ManojPunjabi #KukiraKauRumah https://www.instagram.com/p/CTJ4KlNp3IJ/
Tumblr media
View On WordPress
0 notes
siikeraskepala · 7 months ago
Text
berat yaa jadi orang yg selalu usaha untuk yg terbaik hal apapun dan siapapun tapi gak pernah dihargai sama sekali . gapapa .
tetap jadi orang yg selalu sabar dan ikhlas dengan apa yg sudah terjadi sekarang yaa . yg penting tetaplah menjadi orang baik mau segimanapun kita diperlakukan orang lain yaaa .
𝘴𝘦𝘦 𝘺𝘰𝘶 𝘤𝘰𝘸𝘰 𝘤𝘶𝘦𝘬 🙃
terimakasih telah singgah walau sementara . terimakasih udah kasih rasa bahagia walau sebentar dan terimakasih udah kasih kenyamanan walau sebentar .
aku kira kau rumah terakhir bagiku setelah aku dicampakan oleh masalalu ku yang begitu sangat buruk . dan kukira kau penyembuh lukaku begitu sangat dalam , ternyata kau membuat luka baru untukku 😥
setiap doaku berharap kau kembali dititik terbaik menurut takdir . jaga diri baik baik yaaa anak baik!
1 note · View note
khaleesiofalicante · a year ago
Note
A Indonesian love song needs to be played during a Malec scene in the books. 🥰😍
I just listened to Kukira Kau Rumah by Amigdala (thanks Annie) and it fits perfectly with trsom malec when they return to the apartment after dealing with the cult.
I can see malec lying in bed talking or just smiling at each other as this plays in the background 😭😭😭😭
16 notes · View notes
azaleavs · 10 months ago
Text
Kukira kau rumah nyatanya kau hanya manusia
1 note · View note
diarialiya · a year ago
Text
#BedahLirik : Hindia - Rumah ke Rumah
Mau buat tulisan khusus #BedahLirik kayanya seru. Aku lumayan suka dengerin lagu, ga terus-terusan sih, kalau lagi mode insyaf mah sadar kok gaboleh sampe lalai trus kan katanya musik berbanding terbalik sama Al-Qur’an ya, jadi ya kaya tobat sambel gitu deh kalau dengerin lagu tuh astaghfirullah ukhti :v karena aku penganut #belajardarimanasaja dan #belajardarisiapasaja jadi lah lirik lagu jadi salah satu media belajar buatku. Aku punya prinsip sendiri tiap denger lagu, hiyaa dengerin lagu aja pake prinsip wkwk ribet amat. Selain dengerin musiknya, aku nyoba maknain liriknya, jadi sering gasuka tuh kalau ada lagu roman picisan, yang kata-katanya duh standar bucin banget gitu gada yang bisa dibedah dari diksinya pfft tapi kadang kalau lagunya easy listening trus keseringan denger dari orang, itu mungkin jadi guilty pleasure sih hehe. Gitu juga kalau dengerin lagu Barat (eh tapi ga mesti Barat sih) intinya lagu yang rawan lirik explicit kaya Bruno Mars - Versace on the Floor sempet dibanned kan disini hehe padahal lagunya enakeun :”). Intinya aku mesti mindful sama yang kudengerin hehe kasian alam bawah sadarku kalau dimasukin yang jelek jelek terus. Oke segitu dulu deh intro tentang #BedahLirik, kali ini aku mau bedah lagunya Hindia yang judulnya Rumah ke Rumah. Udah dengerin dari lama sih, tapi kayanya lagunya makin hits sampe MV nya dibikin dua versi keUWUan couple yang ga-aku-tahu-siapa dan lagi sering dengerin lagi aja. Yak intinya mau bedah lagu itu dulu, tapi mungkin ga semua part sih, yang penting penting aja hehe. Here it is #BedahLirik Hindia - Rumah ke Rumah yeay! Menyesal, tak kusampaikan Cinta monyetku ke Kanya dan Rebecca Apa kabar kalian di sana? Semoga hidup baik-baik saja Pertama kali denger, “Ini apaan deh list nama mantan?” pfft liriknya emang personal life Baskara banget sih tapi setelah didenger lagi lagunya enakeun walaupun ini kalau nyanyi jadinya asal nyebut nama-nama orang haha.
Tak belajar, terkena getahnya Saat bersama Thanya dan Saphira Kupercaya mungkin bukan jalannya Namun kalian banyak salah juga Jika dahulu ku tak cepat berubahIni maafku untukmu, Sharfina Segala doa yang baik adanya Untukmu dan mimpimu yang mulia Baik ya Mas Bas, yang didoain banyak hehe Pindah berkala, rumah ke rumah Berharap bisa berujung indah Walau akhirnya harus berpisah Terima kasih karena ku tak mudah Pindah berkala, rumah ke rumah Mengambil pelajaran jika berpisah Jikalau suatu saat berujung indah Catat nama kita dalam sejarah Nah ini dia reff nya! aku suka sih diksinya apalagi bagian “terima kasih karena ku tak mudah” hiyaa ini deep ga sih? jadi nyadar emang ngertiin orang tuh susah, ada seninya masing-masing hehe bagian lainnya aku skip ya, habisnya masih sama absen nama orang pfft.
Kalau di reff ini aku keinget kata-katanya Masgun, lupa sih redaksi tepatnya apa tapi intinya, “Setiap orang datang dalam hidup kita sebagai pelajaran atau ujian”. Ini ga cuma perihal mantan ya, tapi emang tiap orang bisa ngasih pelajaran tersendiri, tergantung kitanya mau maknain atau engga, apa cuma lewat aja atau justru nyesel kenal sama orang yang udah nyakitin dan ngecewain hxhxhx
Letih mengembara, rumah ke rumah Kadang kulupa akanmu, Amalia Siap sedia tiap kubercerita Kuberuntung jadi anakmu, Bunda
Pindah berkala, rumah ke rumah Selalu pada dirimu aku berserah Jika aku disebut dalam sejarah Mereka takkan lupa karena siapa
Nah ini dia bagian terakhir yang menurutku paling bermakna. Setelah ngabsenin nama-nama mantannya Mas Bas ngingetin kalau sebenernya rumah yang selama ini jadi tempatnya pulang itu ya Ibunya. Mungkin selama ini nyari kasih sayang dari orang lain sampe lupa kalau ada sosok yang selalu sayang dan siap terima kita seutuhnya hiyaa. Sebagai anak yang sering curhat ke ibu, aku mesti bersyukur sih, ini jadi nikmat sendiri karena ga semua anak bisa leluasa curhat ke orang tuanya bahkan ada yang udah ga punya kesempatan buat itu :”) Jadi daripada berkelana rumah ke rumah, trus taunya salah (autoplay Amigdala - Kukira Kau Rumah) mending kembali ke rumah yang sesuai fitrah.
Sekian #BedahLirik kali ini, semoga dari apa-apa yang kita temui, selalu dapat maknanya ya! Terima kasih sudah membaca, jangan lupa baca segala tanda-tanda yang ada~
5 notes · View notes
alatusposts · 11 months ago
Text
You're the one who stopped but not really
I thought you were home
In fact, I only rented you
From the body of a woman who asked you to come home
You're not home
You're not home
1 note · View note
morraquatro · a year ago
Text
Unsent
Akan ada beberapa hal tentang rasa sakit yang akan selalu sama, kurasa. Di antaranya adalah bahwa ia tak pernah segera terasa ketika kau jatuh. Ia akan menunggu beberapa hari, dan biasanya hadir dengan perlahan di suatu pagi setelah tidurmu yang lelap. Setelah itu barulah ia menyiksamu.
Will terlelap sepanjang malam di hari ia tiba. Aku akan selalu mengingat Boston Memorial sebagai lorong-lorong putih dalam kesunyiannya yang pekat dan khas. Langkah kaki para perawat seolah berada dalam gerak lamban. Ritme lelah usai menit-menit gawat darurat yang menegangkan, layaknya baris koda dari sebuah lagu. Bulan Februari di luar jendela masih berwarna putih. Lampu-lampu kota menyilangkan sinar-sinarnya menembus pepohonan gundul yang ikut tertidur, menunggu matahari bersinar kembali. Malam akan berjalan lebih cepat mulai sekarang, dan siang akan mulai merangkak lebih lamban.
Hanya bagiku tak ada bedanya.
Aku masih berdentam-dentam, mengikuti detak jarum jam di dinding serta irama tetesan infus yang jatuh ke dalam selang dan mengalir ke bawah kulitnya. Rambutnya mulai tumbuh panjang hari itu, ia hanya mengguntingnya satu kali sejak hari terakhir di SMA. Ikal-ikal meliuk kecil menutupi lubang telinga dan membelit selang ventilator yang bertengger di hidungnya. Dalam skrub hijau rumah sakit aku berharap ia tetap hangat. Adikku pasti akan sembuh, pasti, pasti, pasti—detak jarum jam dan cairan infus itu ikut merapalkannya—dan aku tak ingat kapan mantra ini menidurkanku.
Hingga pada suatu detik segalanya seolah berhenti.
“William?”
Aku tak tahu aku atau dirinyakah yang lebih dulu terjaga. Dalam keremangan bangsal rawat matanya membuka dan bersinar terang, seperti setiap pagi buta di hari-hari sekolah di masa kecil kami. Aku mengerti diazepam hanya melumpuhkan reseptor periferal hingga beberapa jam, tapi ini belum saatnya ia terjaga. Ia tak seharusnya terjaga dengan cara seperti ini.
Sebelum aku sempat beranjak untuk memanggil perawat, kusadari ia hanya menatapku.
“Penghuni bangsal ini sebelumnya meninggal, Nicolas. Jatuh waktu berjalan keluar dari kamar mandi itu.”
“Apa?”
Namun hanya itu yang ia ucapkan. Aku menunggu kelanjutan yang seperti sinyal lemah di ujung telepon, dan ia hanya diam. Kutinggalkan kursi dan beranjak mendekatinya, dan saat itu mulai tak kuyakini apa kedua matanya benar-benar menatapku. Ia masih menatap, tetapi dengan sorot yang seolah menembus ke belakang kepalaku. Aku ikut menoleh ke belakang dan hanya mendapati dinding putih yang mengarah ke kamar mandi yang ia maksud. Apa yang Will lihat?
“Will—“
“Nicolas.”
Sinyal lemah itu masih berkedip pelan. Ia ingin mengucapkannya, dan aku mungkin tak akan mendapatkan saat ini lagi. Maka kukira aku hanya perlu mendengar, tak peduli itu hal paling absurd dari hal-hal absurd yang pernah ia lontarkan. Lengannya terangkat untuk menggapaiku; segera kuraih dan kuletakkan kembali. Nadinya harus tetap lebih rendah dari selang infus—aku bahkan tak ingat apa aku mengutarakan itu pada diriku sendiri atau hanya mengucapkan dalam hati dan ia ikut mendengar.
Di sisi ranjang rawatnya aku membungkuk. “Ada apa, Will?”
“Ingat suatu kali Ayah cerita sepulang berlayar?” bisiknya. “Dia diikuti tiga lumba-lumba di Selat Melaka, sepanjang laut, sampai kapal tiba di pelabuhan berikutnya. Kita belum lama pindah. Kamu dua belas tahun, gue sembilan. Di seberang rumah kita ada pohon kelapa yang tiap pagi dan sore dihinggapi burung yang sayapnya putih. Kadang-kadang di sana sepanjang hari.“
Suaranya serak dan rendah, tetapi ia tenang dan yakin dengan urgensi seolah harus menyampaikan segalanya saat itu juga. Hanya pemakaian kata ganti yang tidak konsisten itu, dan jeda-jeda yang tidak seharusnya yang membuatku yakin ia masih berada di bawah pengaruh obat bius. Dan aku sama sekali tak mengerti yang ia maksud. Masa kecil kami, dalam kenanganku, adalah rumah-rumah yang kami tinggalkan sebelum terlalu lama kami tempati dan kenangan akan kepergian dan kedatangan itu berlapis-lapis banyaknya. Aku ingat pohon kelapa itu, tapi hanya itu. Aku membutuhkan lebih lama untuk menggali rincian sisanya.
Sebelum segalanya hadir, Will telah kembali padaku lebih cepat. Kedekatannya terasa nyata dengan sorot mata yang kini benar-benar jatuh padaku, tidak lagi kepada bayanganku atau bayangan apapun di belakang sana yang sempat menciutkanku beberapa saat tadi. Will kembali, kini dengan kesadaran sepenuhnya.
“Aku tau kenapa burung itu ada di sana, Nick,” ucapnya.
Kurasa aku melihat kenangan itu lewat penglihatannya; pohon kelapa yang tinggi menjulang, pelepah-pelepah daunnya yang mengering dan menjuntai—satu embusan angin saja pelepah-pelepah itu pasti jatuh—dan buah-buahnya yang bundar dan hijau. Lalu seekor burung putih berparuh panjang di pucuknya. Hari itu Rabu, Will kecil dalam seragam sekolah berhenti di seberang rumah kami. Burung itu dari kemarin di sana, ujarnya kepada ibu kami.
“Burung itu dari kemarin di sana,” ulang Will. “Dia menunggu kawanannya.”
Seakan sebuah kelanjutan dari kisah yang membutuhkan sebelas tahun untuk ia tuntaskan. Kelegaan usai kisah itu menenggelamkannya kembali ke dalam ranjang rawat, selang-selang infus dan ventilator serta detak jarum jam. Aku melihat dadanya kembali naik dan turun dalam irama yang sama dengan tetes infus dan ia pun tertidur.
Aku tertinggal di sisi ranjang rawatnya, sendiri dihantui kenangan masa kecil kami.
 *
 Ayah pertama kali melihat mereka di perairan Sumatera; melompat-lompat di antara buih ombak, melayang dan tenggelam dalam lingkaran-lingkaran di ujung teropong di buritan kapal. Laut tenang dan kapal melaju pelan dengan sinyal kapal lain yang akan melintas dari arah pelabuhan. Ia akan mencapai daratan segera. Ada selang beberapa menit ketika ketiga mamalia itu menghilang. Kapal mengurangi kecepatan, tetapi sebelum Ayah meninggalkan buritan, larik-larik buih putih muncul di atas permukaan air dan tiba-tiba ketiganya telah begitu dekat. Melompat dari dalam air, dan melengkung tajam di udara sebelum kembali tenggelam. Pagi baru menjelang. Bila matahari sedikit lebih tinggi saja, sekumpulan ikan kecil yang mengikuti mereka akan terlihat tak jauh dari permukaan air.
“Small fish swim in schools, large fish swim alone,” ujar Ayah kepada kami.
“Lalu kenapa lumba-lumba berenangnya bertiga?” tanya Will. “Mereka kan besar.”
“Lumba-lumba bukan ikan, mereka mamalia,” jawabku sok tahu.
William, sembilan tahun, ingin ikut ayah berlayar untuk bertemu lumba-lumba ini. “Nanti pas libur sekolah,” pintanya. Tentu saja itu tak mungkin, kalau pun terjadi mereka tak mungkin masih di sana. Aku sudah cukup besar untuk mengerti. Aku pun sudah menghabiskan cukup waktu dengan ayah sejak sebelum ia hadir—satu hal yang Will tak miliki. Will lahir setelah ayah menjadi kapten dan waktunya di laut lebih banyak daripada waktunya di darat. Tahun-tahun ketika hubungan Will dan ayah menjadi sulit kuingat dengan lebih jelas, sebab terasa lama. Sebagai gantinya, ia dan ibu kami memiliki kedekatan yang tak bisa kumiliki.
Aku mengetahui cerita tentang burung putih itu dari Bunda.
“Kamu dengar itu, Nick?” ujar Bunda. Aku baru saja membuka buku PR dan ia berdiri di tengah jendela dapur, dengan leher terjulur ke luar. Sosoknya menghalangi cahaya. “Benar kata Will, burung itu di sana seharian, sepertinya di pohon kelapa yang itu. Lihat? Dengar suaranya? Uwu, uwu, uwu.”
Suaranya benar-benar seperti itu dan Bunda benar-benar menirukannya. Aku menatapnya dengan kening berkerut tak percaya. Aku tak mendengar apa-apa dan aku hanya ingin mengerjakan PR. Aku selalu mengira Will dan Bunda memiliki teritori sendiri, di mana mereka berdua dapat saling mengerti. Teritori itu tak bisa kumasuki sebagaimana yang menurut Will kumiliki dengan ayah. Maka, kubiarkan segalanya berlalu. Namun, beberapa malam setelah hari itu Will merayap naik ke tempat tidurku sesaat sebelum aku terlelap. “Dengar ‘kan, Nick? Burung itu lagi.”
Aku tahu kita membutuhkan kesunyian untuk benar-benar mendengar. Namun di tengah malam itu, saat polusi suara lesap dan frekuensi terkecil pun terasa dekat, kau mungkin tak yakin apakah suara itu benar-benar ada atau hanya gaung dari dalam kepalamu sendiri. Aku melawan kantuk selama Will menatapku lekat-lekat dalam penantiannya akan sebuah pengiyaan, sambil berupaya merasakan irama yang ia dengar. Mungkin benar-benar ada. Mungkin yang kurasakan hanyalah irama Will menirukan suara itu dalam hati, seperti ketika Bunda melakukannya. Maka aku pun mengangguk. “Uwu, uwu, uwu,” kataku. Ia tersenyum dengan kepuasan di matanya, senang sebab ia terbukti dan tak sendiri dengan pikirannya.
Will, adikku.
Tatapannya yang lekat itu—yang masih terasa seperti saat ia sembilan tahun—adalah yang terakhir kulihat ketika mereka menutup pintu bangsal rawatnya dan mendorongku keluar. Subuh bahkan belum menjelang, dan aku sudah membangunkan seisi rumah sakit. “Another relapse,” ia mengerang saat terbangun. Yang kutahu adalah Will ingin aku ada di sana. Namun, dalam kegesitan yang tak mampu kulawan, paramedis dan dokter dalam skrub hijau melesak masuk dengan arus yang menyeretku ke arah sebaliknya.
Ia membisikkannya lagi sambil menatapku pergi. Wajahnya terangkat kepadaku di antara bahu sepasang perawat, “Did you hear the bird, Nick?” lalu mereka merebahkan tubuhnya.
Di depan wajahku, pintu bangsal rawat berayun dan menutup rapat.
Rasanya seperti pengkhianatan. Rasanya seolah semua yang pernah kau cintai di dunia ini tiba-tiba berbalik membencimu.
 *
William tak pernah sembuh, tapi tentu saja itu baru kuketahui lama kemudian.
Sweeney, perawat yang menutup pintu Will di depan wajahku itu kini hadir di lorong. Ia menarik pintu itu lagi hingga menangkup di belakangnya, kemudian duduk di bangku di sisiku dan berkata, “Istirahatlah, Mr. Hakim. Anda butuh itu dan nanti William juga. Biar para dokter dan perawat menangani adik anda untuk sekarang.”
Aku sudah mendengar itu berkali-kali meski tanggalan baru saja berganti.
Kuangkat wajahku, menatapnya. “Apa benar penghuni bangsal Will yang sebelumnya meninggal? Jatuh waktu keluar dari kamar mandi?”
Seketika kedua mata perawat itu menyala seperti jendela-jendela rumah di tengah malam yang mengerjap karena alarm berbunyi. Segera kusadari Will lagi-lagi benar, seperti tentang burung putihnya. Never mind, tukasku padanya segera.
Namun ia enggan melepaskannya. “Anda kenal Mrs. Montgomery?”
Don’t think about it, ma’am, ulangku. “Will pasti dengar itu dari perawat lain, dia memperhatikan dan mengingat semua hal. Saya terkejut tadi dia tiba-tiba menyinggung itu, itu saja. Saya kira dia melihat hantu di belakang saya atau apa.”
“Mr. Hakim, kami tidak membicarakan riwayat pasien di depan pasien lain,” ucapnya. “Dan William kehilangan penglihatannya beberapa saat sebelum serangan ini.”
Harusnya aku menyadarinya saat itu.
Harusnya segera kuterima kenyataannya; segalanya tak akan sama lagi. Will tak akan sembuh dan waktu yang disisakan bagiku untuk bersamanya mulai sekarang akan berjalan mundur, kembali lagi kepada saat kami belum sedekat ini, lalu kepada saat ia tak ada di dunia. Harusnya kusadari agar dapat kuhabiskan setiap detik sebesar-besarnya, merentangkan relativitas waktu sejauh-jauhnya. Kami bisa melintasi malam kota Brussel di dalam trem hingga pukul tiga pagi, seperti yang kulakukan untuknya setelah serangan pertamanya di SMA. Kami bisa pergi menonton Red Sox lagi, dengan tiket di baris depan seperti musim lalu. Ia selalu ingin menempuh perjalanan Road 66—harusnya kuluangkan waktuku di musim panas itu. Akan kuterangi setiap malamnya bila aku bisa, dan aku seharusnya memberi lebih banyak lagi. Namun, setelah malam itu, tahun-tahun yang terasa semakin pendek tetap tak membuatku sadar. Kukira ia akan terus ada.
Itulah hari-hari ketika doa-doaku tak terkirim.
William dilepaskan oleh Memorial setelah delapan hari perawatan, dengan jadwal terapi yang membuatnya tetap harus kembali secara berkala. Bulan Maret tiba, tetap putih, tapi matahari bertahan lebih lama. Kami mengemasi barang-barangnya dalam dua tas duffel yang akan kami bawa masing-masing. Ia kehilangan empat pon berat badan, berjanji untuk segera makan banyak, dan berupaya menutupinya dengan berlapis-lapis kaus dan jaket.
Di sisi jendela bangsal rawat itu ia mendorong binder birunya kepadaku.
Ini kali pertama ia mengizinkanku membacanya. Isinya Kalkulus; phi, alpha, beta, sigma yang penuh angka serta simbol-simbol algoritma. Apa-apa yang ia tulis di tempat tidur itu di malam dan siang ketika ia seharusnya tidur.
“Setiap simbol ini mewakili gerak semesta, iya kan, Nick?” ujarnya. “Massa, volume, kecepatan, luas. Phi bagi apapun yang melingkar, square bagi yang melipatgandakan diri. Kita percaya semesta luasnya tak terbatas, terus bergerak dan melebar sejak ledakan bintang tapi bila dikombinasikan dengan persisi tertentu, simbol-simbol ini membantu kita membaca arah dan pola pergerakannya. These are law.”
“That’s some finding,” kataku segera membaca apa yang ingin ia sampaikan. “Jadi apa hubungannya ini dengan burung putih di pohon kelapa di seberang rumah?”
“Lumba-lumba yang ikut ayah pulang waktu itu, Nicolas.”
Kedua matanya bersinar-sinar cerah, dan itu membuatku percaya ia telah sembuh. Binder biru tebal itu tergeletak di atas kasur di antara kami, dan aku akhirnya ikut duduk. Aku masih punya empat puluh menit sebelum kuliah berikutnya, maka kutunggu ia menyelesaikan teori ini.
“Waktu itu musim migrasi dan hewan berpindah ke tempat yang lebih menjamin kelangsungan mereka. Survival instinct—small fish swim in schools, large fish swim alone, remember? Pasti ada lebih banyak lumba-lumba, mamalia atau ikan besar lain yang tiba di pelabuhan di musim itu. Bukan hanya tiga yang mengikuti kapal ayah. Ikan-ikan besar ini membaca arus musim dan memilih perairan yang cerah dan tenang. Ikan-ikan kecil mengikuti mereka. Burung laut, yang ada di rantai makanan berikutnya, bermigrasi mengikuti perubahan suhu dan pergerakan ikan-ikan ini. Tapi di satu atau saat lain dalam migrasi itu, akan ada satu-dua yang tercecer dari kawanan. Glitch—malfungsi kecil sekalipun alam sudah berpola dengan sendirinya. Harusnya sudah ada algoritma yang mengukur pola malfungsi ini.”
Burung itu menanti teman-temannya, rombongan migrasi berikutnya. Siang dan malam bertengger di atas pohon kelapa itu karena itu puncak tertinggi di mana ia dapat didengar. Will mendengarnya. Bunda ikut mendengar. Aku tidak. Selamanya tak pernah tahu bagaimana ia menemukan jalan pulang atau pernahkah ia benar-benar pulang. Tidak ambil pusing. Bahkan ketika jawaban itu tiba di hadapanku di hari itu, yang kupikirkan adalah bagaimana Will sampai memikirkannya. Di sini, sekarang, dan di malam-malam ketika ia setengah tidur dan berada di bawah pengaruh obat bius.
“Dia menunggu kawanannya,” ia menegaskannya lagi, mengulang yang ia ucapkan di malam ia tiba seolah memastikan pintu belakang kisah itu telah benar-benar tertutup. Setelah belasan tahun, sebuah closure.
Ah, William.
“Tapi selama hari-hari itu, tidak ada yang datang.”
Lalu aku pun mengerti.
Aku melihatnya sejelas-jelasnya; sakit yang mendera Will dalam terpejam, denyut di belakang kepala, kegelapan di segala arah, dengan kebingungan haruskah ia menegar rasa nyeri itu dan bertahan. Atau inikah akhir? Hampir bisa kurasakan kalkulasinya akan peluang hidup yang sedang ia perjuangkan, melawan malfungsi yang harus ia jalani. These are law—akan tetapi malfungsi tertentu kadang tetap terjadi. Ia benar-benar berjuang. Will menghitung peluangnya sendiri hingga ia merasa tersesat seperti burung yang ia temukan waktu kecil. Terpisah dari kawanan migrasi, tak tahu haruskah ia melanjutkan perjalanan atau sudahkah saatnya pulang atau ke mana ia harus pulang. Dan kisah Ayah, beserta tiga lumba-lumba yang membuntutinya pulang hadir di waktu yang setepatnya; seperti setiap kenangan yang tak pernah keluar dari istana memori Will.
Tanyaku kemudian, “Terus lo dapat cerita soal Mrs. Montgomery dari siapa?”
Ia langsung menatapku dengan kening berkerut tajam. “Siapa itu Montgomery?” tukasnya, sepenuhnya bingung.
Jawaban itu tak pernah kutemukan.
Aku pun melepaskannya. Pasti perawat selain Sweeney, pikirku, atau pasien lain yang ia temui selagi aku tak ada. Sebab tak mungkin membuktikan kebenarannya juga. Seperti kisah tentang burung putih itu, aku tak menganggapnya penting. Dan seperti kisah tentang burung putih itu juga kurasa jawabnya baru akan kutemukan belasan tahun lagi.
Namun, aku benar akan satu hal. Rasa sakit akan selalu sama; ia tak segera datang ketika kau jatuh dan baru akan menyiksamu beberapa lama setelahnya. Hanya saja, bila kau beruntung dan benar-benar berjuang—seperti William ketika sosoknya melintasi lorong menuju elevator rumah sakit—lama-kelamaan kau akan ikut mencintai rasa sakit juga. Sebagaimana ia mencintaimu.
Kini aku yakin burung putih itu benar-benar ada. Aku tahu ia tak pernah menemukan kawanannya kembali. Tak pernah pulang. Pada akhirnya, dengan sekuat tenaga menciptakan habitat baru dalam keterasingan, berkawan dengan segala yang memungkinkan kelangsungan hidupnya.
Sebab keteguhan itulah yang membuat Will bertahan hingga begitu lama.
 *
Tumblr media
19 notes · View notes
simpingmyself · 12 months ago
Text
kukira kau rumah - amigdala
this song gone viral bcs of tiktok.
me who know since 2018: lameeeeeeeeee
haha jahatnya aque.
1 note · View note
ceritanyaiffah · 11 months ago
Text
Karam.
Tumblr media
"Wah, ramai ok.. kan lah kubilang agik ramai" Seru bungsu sambil melihat sekeliling.
"Enggak. Kita juga kemarin kesini sama lah ramainya.. kita berenti di ujung aja, ditempat biasa" ujar babe menenangkan.
Bimbi kembali melaju membelah pinggiran matras. Menuju ujung pantai dengan rumah nelayan, tempat favorit kami.
"Eh tengok-tengok, ade mobil polisi banyak kek ambulan. Ade ape ok?" Tunjukku sambil memicingkan mata.
"Oh, ade kapal tenggelem.."
"Besak kapal e.."
"Iya, kapal isep timah tu yang karam. Baru kemarin gara-gara gagal lempar jangkar karna ombak besar. Ada dimuat di berita" jawab babe menjelaskan.
"Oo.." respon kami berempat bersamaan.
Selekas bimbi berhenti dan membuka pintu, kupandang-pandang lagi kapal karam didepanku tadi. Bentuknya besarr kali, dengan kelir putih tegas salah satu perusahaan tambang BUMN terbesar pula di provinsi kami. Juga kelir perusahaan partner BUMN tersebut disamping kanannya.
Semakin memangkas jarak, aku jadi terpaku. Tetiba teringat beragam champaign reklamasi yg seringkali dibahas dan digaungkan saat masa SD hingga SMA-ku disini. Beragam protes-protes kami, sampai uji Ph dan segala penelitian dampak lingkungan akibat pengerukan timah, yang dulu-dulu kupikir makin tak sopan karna makin dekat menuju rumah-rumah kami.
Ingin ku-sukur-kan saja rasanya sewaktu melihat kapal isap yg hanya makin terlihat setengahnya tadi. Kupikir impas bukan? Atas segala dampak lingkungan, sosial, ekonomi, kesehatan, bahkan politik yg mereka timbulkan. Taipan (beneran taipan disini sebutannya, bukan karna pinjam istilahnya bang tere ya wkwk) makin kaya, sejahtera, masyarakat yg lelah bertarung nyawa. Toh, rugi satu kapal ga bakal langsung bikin mereka miskin bukan?
Seperti kata sebuah laporan VOA Indonesia ditahun 2017,
Provinsi Bangka-Belitung berada di posisi tertinggi dalam soal kerusakan lahan yang mencapai 1,053 juta hektar atau 62 persen dari luas daratannya. Industri ini juga sumber korupsi. Selama 10 tahun sejak 2004, Indonesian Corruption Watch (ICW) mencatat kerugian negara dari penambangan timah sebesar 68 triliun rupiah dari pajak, biaya reklamasi, royalti, pajak ekspor dan penerimaan non pajak.
Walau katanya, dengan timah pula pulau ini terdengar namanya di peta dunia,
Bangka Belitung bagai menerima buah simalakama. Sejak lama, kepulauan ini menjadi penghasil timah terbaik di dunia. Sepuluh negara, yaitu Perancis, Jerman, Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, China, Thailand, Jepang dan Singapura, menggantungkan pasokan timah dari sana. Buah manis itu bertahun-tahun dinikmati dan membawa nama Bangka-Belitung di peta dunia.
Begitu yang tertulis disana. Pun sama berita-berita lainnya.
Maka, ku-sukur-kan si karam tadi sungguh tak apa bukan? Toh hanya satu kapal diantara puluhan bahkan ratusan kapal yg tengah berlarung mengeruk bumi pulau kami?
Tsahh, byurr..
Gulungan ombak yg memang tengah tinggi seakan menyadarkan pikir-pikir anehku tadi.
Keknya, bukan tugasku untuk menghakimi segala hal yg terjadi pada pulau dan penghuninya ini, karna kerja taipan² dan kroni²nya tadi.
Karna kayaknya, sejahat apapun mereka di pikiran kecilku ini, tetap aja,
Ada rizki orang banyak, yang kukira hampir 1/3 masyarakat pulau yg Allah titip beri pada taipan-taipan itu,
Ada puluhan atau bahkan ratusan perusahaan di indonesia bahkan, yg memang membutuhkan timah sebagai salah satu bagian produk mereka,
Dan bahkan, masih ada kita, yg selanjutnya mungkin menjadi konsumen akhir dr produk² perusahaan itu.
Maka perkara ini, sungguh bukanlah hal yg sederhana tuk diatasi. Tapi bukan berarti mustahil tuk teratasi.
Jadi pemerintah tu sulit, karna ada tanggungan rakyat dalam tiap kebijakannya,
Jadi pengusaha juga sulit, karna ada tanggungan karyawan dalam tiap produksinya,
Jadi karyawan dan masyarakat juga sulit, karna ada perut keluarga yg harus diisi di tiap harinya,
Dan,
Jadi manusia juga sulit, karna ada hati, pikiran dan mulut yg harus pintar² pula dijaga.
Kalau kau tadi jadi sukur-kan kapalnya,
Kukira kau yg kan karam selanjutnya, fah.
"Dadi wong ki mbok yo sing solutip, ngono lho!"
Fah, fah..
Mending bantu cari solusinya🐣
Nb : Coba² buka Q.S. al ahzab ayat 70-71 dan hadist arba'in nomor 34, ya!
1 note · View note
yasifazulfa · a year ago
Text
Enam Puluh Satu Minggu Yang Lalu
tentang aku, kau, kita, dan semesta ____________________________________ Sabtu, 29 Februari 2020 22:11, Indonesia Bagian Barat
Sudah malam, namun tak dapat terpejam. Semua kenangan tentangmu masih segar diingatan, entah sampai kapan.
Aku ingat, hari sabtu--enam puluh satu minggu yang lalu, kau katakan sudah tak ingin lagi bersamaku. Kau bilang aku sudah tak seperti dulu. Kau bilang aku tak sesuai ekspektasimu. Kau bilang kau ingin sendiri saja dulu, sampai waktu yang tentukan batasmu. Kukira kau sungguh, lagi lagi aku berekspektasi semu. Kutatap matamu. Mata yang dulu pernah amat kupuja dalam setiap pejamku. Mata yang dulu amat pandai merayu. Ada ketidakjujuran disana. Entah apa. Kutanya padanya, ia bungkam. Kutanya padamu, kau diam. Hey, biar kutatap lebih dalam. Ada rindu yang terselubung disana. Ada siapa disana? Benar. Bukan aku. Hey, seingatku dulu adalah aku yang selalu tersimpan dimatamu, dipikiranmu, bahkan dihatimu. Adalah aku yang selalu menjadi nomor satu. Adalah aku yang kau bilang seluruhmu. Aku masih disini. Tidak pergi, bahkan untuk sekedar bergeser posisi barang sesenti.
Kau bilang aku rumahmu. Lantas mengapa kau memilih memulangkan diri ke rumah yang bahkan sebelumnya kau anggap asing? Atau kau berubah pikiran saat memaknai apa itu tempat berpulang, tempat berkesah, tempat berbagi? Atau ia terlihat lebih nyaman untuk ditinggali? Lantas bagaimana dengan semua kenangan yang sudah terlewati bersamaku? Apa bagimu melupakan semudah itu?
Kukira kau tak sama dengan mereka, yang dulu pernah datang lantas pergi tanpa berpamitan. Kukira kau berbeda. Ternyata sama saja. Kau bilang aku rumah namun untuk berpulang dan berlindung dibawah atapnya kau jengah. Kau bilang aku malam namun untuk menjadi gemintangnya kau enggan. Kau bilang aku putri namun kau tak mau menjadi pangerannya. Kau bilang aku laut. Lantas pada akhirnya kau menjadi kapal dan ia pelabuhannya. Dan aku hanya mampu melihatmu bersamanya dalam diam saja.
-yasifazulfa
3 notes · View notes